Categories
Boleh tahu? Opini Share

Mengenang 9 tahun tsunami. Siapkah kita jika terjadi lagi?

Hari ini tepat dengan 9 tahun kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan beberapa bagian negara lainnya. Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, timeline twitter saya dipenuhi dengan tweet-tweet mengenang kejadian dahsyat ini.

Iya, gempa dan tsunami saat itu begitu dahsyat, goncangan bumi yang paling kuat yang pernah saya rasakan sampai-sampai saya tak sanggup berdiri saat itu.
Tahun ini, tak seperti tahun sebelumnya, saya tak ingin berlarut dalam kesedihan itu, dan saya rasa sebagian besar rakyat Aceh juga sudah move on dari kejadian ini. Saya sendiri lebih memilih memperingati masa kini dengan isu siapkah kita jika terjadi kejadian serupa?
Iya, banyak yang meninggal saat tsunami 2004 karena ketidaksiapan, kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti saya sendiri saat itu, bingung harus berbuat apa, saya ikut lari mengikuti arus ribuan manusia yang juga berlari ke satu arah, menjauh dari pesisir.
Sementara, saat itu dikabarkan, satu pulau yang juga masuk dalam wilayah provinsi Aceh, pulau Simeulue, yang secara letak geografis lebih dulu terkena gelombang tsunami, jumlah korban jiwanya hanya 7 orang. Itu sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang terkena dampak.
Ternyata, masyarakat Simeulue telah mengenal tsunami dari kearifan lokalnya. Cerita turun-temurun lewat nyanyian rakyat memberitahu warga Simeulue apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa besar.
beginilah liriknya:
Enggel mon sao curito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwi lah da sesewan
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan dan navi da
yang artinya:
Dengarlah sebuah cerita
Pada zaman dahulu
Tenggelam satu desa
Begitulah mereka ceritakan
Diawali oleh gempa
Disusul ombak yang besar sekali
Tenggelam seluruh negeri
Tiba-tiba saja
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari
Tempat kalian yang lebih tinggi
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini betul-betul
Pesan dan nasihatnya
(dikutip dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=275107325946280&story_fbid=277995378990808)
buat yang belum tau, di Aceh ada 13 suku bangsa asli, yaitu suku Aceh, suku Gayo, Aneuk Jamee, suku Singkil, suku Pakpak, suku Alas, suku Kluet, suku Tamiang, suku Devayan, suku Lekon, suku Sigulai, suku Haloban dan suku Nias
Nah, lagu tadi adalah lagu dalam bahasa Devayan, masyarakat/suku yang mendiami pulau Simeulue.
Masyarakat Simeulue telah mengenal gelombang besar atau tsunami itu dengan nama Smong dari kejadian ratusan tahun lalu dan diceritakan lewat lagu tersebut. Namun, ternyata perlu dicatat bahwa tak semua tsunami ditandai dengan air yang surut.

Saat tsunami (yang disebabkan pergerakan lempengan bumi) terjadi, ada gelombang positif dan gelombang negatif. Dalam kejadian tahun 2004, gelombang tsunami yang bergerak ke barat (Sri Lanka, Maladewa..) dari titik lempeng adalah gelombang positif, sedangkan gelombang tsunami yang bergerak ke arah timur (Aceh) adalah gelombang negatif, dimana gelombang negatif ini bergerak tanpa ciri-ciri air laut yang surut dan kekuatannya lebih merusak.

Kebetulan pergerakan lempeng di barat Sumatera mengakibatkan tsunami dengan ciri-ciri demikian, sehingga “warning system” masyarakat Simeulue bekerja dengan baik. Maka bisa jadi ini mitos yang berbahaya (terutama bagi wilayah lain selain barat Sumatera) mengingat pergerakan lempengnya berbeda-beda dan akan menimbulkan gelombang tsunami yang berbeda pula (tidak ada tanda-tanda air surut, tiba-tiba gelombang tsunami menerjang).
Jika ingin penjelasan lebih jelas, sila lihat video berikut ini, Kronologis detik-detik Tsunami 2004:


(lompat ke menit 42:40, gambaran tentang gelombang positif dan negatif)

Hal ini mengingatkan kita bahwa manusia benar-benar rentan terhadap bencana alam, dimanapun dan kapanpun. Terutama jika tsunami terjadi, kita belum punya warning system yang pasti.

Saya tadi posting beberapa tweet tentang ketidaksiapan ini:

#9thnTsunami move on. Seberapa siap siaga kita dengan bencana alam yg mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal kita?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami mungkin pun bukan lingkungan yg biasa kita tempati. Bencana jg mungkin trjadi di tempat kita berlibur. Pikirkan kemungkinannnya
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami Kalau terjadi bencana a, harus bagaimana? kalau b, pikirkan, harus bertindak seperti apa? Siaga bencana mengurangi korban jiwa.
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Terus kebetulan setelahnya juga ada tweet dari mbah @sudjiwotedjo tentang penyebutan bencana yang terlalu sadis bagi alam. Hm, ada benernya juga, apa yang kita sebut bencana alam ini kan cara alam menyeimbangkan diri, seperti kita ketahui Bumi dan alam ini terus berkembang dan wajahnya akan berubah, baik karena ‘bantuan’ manusia (longsor)  maupun bukan (seperti gempa, tsunami).

@sudjiwotedjo iya tergantung perspektifnya, mbah. dalam bencana alam ada yg disebut kerugian dan korban jiwa. dalam sabda alam, disebut apa?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

@zakwannur Ya mari kita pikirkan bersama, termasuk bersama pusat bahasa. Gmn cara kita menamai “kerugian” dan “korban jiwa” dlm Sabda Alam
— Bpk of Bpk Bangsa (@sudjiwotedjo) December 26, 2013

@sudjiwotedjo jadi, misalnya: siaga dan penanggulangan bencana itu tetap ada buat perspektif yg gak mau mengalami kerugian..
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Ya begitulah menurut saya, kita sebut bencana alam jika menurut kita itu merugikan dan harus dihindari (dengan siaga dan mitigasi bencana), bisa kita sebut ‘sabda alam’ seperti mbah @sudjiwotedjo katakan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kedua-duanya bisa berdampingan.

Semoga bermanfaat.

Categories
Share

Siapa Saja Ateis di Antara Kita?

IA

Awal bulan Januari 2012, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka.  Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara.  Tapi kasus ini membuat saya bertanya “Kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?”

Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”.  Tuhan itu satu.  Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?

Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan menganggap dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.

Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.

Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5).  Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.

Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka.  Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa  ”Salam Maria“.

Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.

Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda.  Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis

Beberapa abad  yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus.  Dan mereka dianggap “ateis”.

Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat

Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”

___________________________________________________________

oleh Soe Tjen Marching, di facebook notenya.

Tulisan Soe Tjen Marching ini menarik bagi saya, ateis secara umum diartikan tidak percaya pada tuhan. Kalau begitu, bukankah setiap pemeluk agama saat adalah ateis bagi agama lainnya? Karena tidak percaya pada tuhan yang ada di agama lain.
Seperti kata Stephen Roberts itu:

“I contend that we are both atheists. I just believe in one fewer god than you do. When you understand why you dismiss all the other possible gods, you will understand why I dismiss yours.”

Categories
Share

Ulang Tahun ke-4

Barusan mau ngerapiin isi hard disk, malah jadi nostalgia pas liat foto-foto ini. Foto-foto perayaan ulang tahun saya yang keempat 😀

perayaan yang pertama dan terakhir (sampai saat ini).
Foto-foto ini saya foto ulang dari album yang udah kena tsunami, makanya fotonya agak-agak rusak gini hehe. Tulis captionnya dulu ah, biar gak lupa..

IMG_0014

Itu saya! dengan kakak Vivi Oebit sebagai MC alias pembawa acara. 😀

IMG_0024

Teman-teman yang hadir, gak ingat semua sih.

(dari kiri kanan. depan: Faris, Fahmi, Farah, lupa, lupa, lupa. belakang: Mamanya Faris, Mastura, Sari, Ayu, lupa, kakaknya Sari dan Ayu yang juga lupa namanya siapa)

IMG_0006

Mamak dengan teman-teman kantor mamak yang hadir, dari kiri kanan: lupa, Mamaknya Akbar, Akbar, Mamak, Wak Ainal, sisanya lupa siapa. 😐

IMG_0004 

Ini waktu temen-temen disuruh maju, Faris disuruh maju sama kak Vivi, Faris nya malu, gak tau mau nyanyi apa eh malah mic nya dikasih ke saya. xD

IMG_0012

Kak Inda Oebit dengan teman-teman dekat rumah. (dari kiri-kanan: Kak Sri, Kak Ya, Kak Dewi, lupa, Kak Inda)

IMG_0019

Waktu diucapin selamat ulang tahun sama tetangga, lupa namanya siapa, saya sih manggilnya Ibu. Ingetnya dulu tiap sore sering dibawa jalan-jalan sama Mamak ke rumah Ibu.

IMG_0005

Hadirin pamit mau pulang..

IMG_0008

Pas udah sore, udah pada pulang. Saya dengan pakaian adat Aceh berfoto sama Kak Lia (sodara) yang ala princess. 😀

IMG_0022

Mann Oebit, saya, kak Vivi, dan kak Inda berfoto dengan nenek Cut Puteh. Seperti namanya, nenek kami ini putih sekali, seperti bule, tapi walau tua rambutnya tetap hitam semua. Heheh

IMG_0013

Dokumentasi tertua foto saya dengan Mamak, foto masa kecil lainnya hilang/rusak karena tsunami. Tapi ada satu yang saya tidak ingat, kenapa tidak ada foto saya dengan Papah saat ulang tahun? Ternyata katanya karena Papah yang jadi fotografer waktu itu.. katanya. :’)

*Lah baru ingat juga, hari ini hari ulang tahun Papah 😀 Maafkan anakmu ini yang mungkin nggak sempat membanggakan pah.

Categories
Kosmos Opini Share

Stargazing: Betapa kecilnya kita

Stargazing atau kalo dalam bahasa Indonesia nya semacam melamun sambil ngeliat bintang/langit malam adalah salah satu hobi saya sejak kecil. Ceritanya, gara-gara dulu di Aceh sering mati lampu (sekarang juga sih –“), saya jadi sering tiduran di luar. Ngeliat bintang 😀
Saya ingat betul gimana banyaknya bintang yang keliatan dulu, dibanding sekarang yang gak banyak lagi karena polusi cahaya di kota. Saya ingat betul untuk pertama kalinya melihat bintang jatuh dan sejak saat itulah saya suka melihat langit malam hari. 😀

Tapi sekarang, saya udah jarang menghabiskan waktu untuk melihat langit malam. Selain karena makin sedikit waktu untuk melamun, alasan lainnya karena bintang yang keliatan selalu yang itu-itu aja (gara-gara polusi udara+polusi cahaya). Yang keliatan cuma 1,2,3 bintang, Sirius tok atau malah Bintang Kejora (yang sebenarnya bukan bintang). Hahah. Jadinya cuma bisa liat posisi bintang dari Google Sky Map, teknologinya sangat membantu. Cukup arahin smartphone arah tertentu buat tau bintang apa yang ada disana sesuai dengan lokasi koordinat kita dan realtime. 🙂

Sedih emang tinggal di kota besar, cahaya bintang kalah sama cahaya lampu kota. Lebih sedih lagi bayangin anak-anak di masa depan, mungkin malah nggak tau ada bintang di langit. Kalo udah gini jadi kangen Aceh, hampir selalu ada bintang jatuh setiap kali saya stargazing disana. Langit kota Banda Aceh sekarang memang nggak sebagus dulu sih, tapi untuk di tempat nenek saya, Tangse, langitnya masih cukup bagus. Kalo diliat dari gambar dibawah ini, mungkin langit Tangse itu sekitar nomor 3-4. Untuk kota Banda Aceh mungkin di antara level 5-7.

Amazing-Stars-Night-Sky
(gambar: level polusi cahaya)

Daaaaaaaaan pengalaman stargazing paling cakep mungkin waktu saya ada di Iboih, Pulau Weh, Aceh juga. Saya berbaring di dermaga terapung, menghadap ke langit, diiringi musik New Age, ditambah ayunan dan suara dari ombak. Ada bintang jatuh pulak. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. :’)

IMG_3856-Edit-2

Sesekali melamun, sambil ngeliat bintang, mungkin nggak menyelesaikan masalah kita. Tapi buat saya sih perlu. Namanya juga hobi. :))

Melihat bintang mengingatkan saya betapa kecilnya kita ini, manusia, yang kadang merasa superior. Sombong, merasa diri makhluk terhebat di seluruh jagat raya. Merasa diri kita adalah pusat dari jagat raya dengan peradaban paling tinggi? Padahal dengan ratusan miliar galaksi yang terpantau, dan dengan rata-rata ratusan bahkan ribuan miliar bintang dalam tiap-tiap galaksi, bukan nggak mungkin ada kehidupan lain, yang mungkin peradabannya jauh lebih tinggi daripada manusia. Saking cerdasnya mereka, mungkin mereka pernah mengamati bumi, kemudian pergi, nggak berminat menghubungi kita, karena melihat kelakuan bodoh yang ada didalamnya. Duh.

TB7UxqB

“Jangan berimajinasi alien mau invasi dan bikin koloni di Bumi. Mereka gak mau ke tempat yang penuh kekacauan.” Hahah.

ufos_leaving_earth_517439
Oiya, coba hayati perbandingan ini, Mungkin cukup menggambarkan betapa kecilnya kita. Bumi yang bagi kita cukup besar, dibanding planet, bintang, galaksi, sekumpulan galaksi dst..

Perbandingan Semesta
Itu baru gambaran dari semesta yang berhasil dijangkau peralatan manusia. Bayangin lebih luas lagi. Betapa kecilnya ya kita ini, dan rasanya masalah-masalah yang kita ributkan itu nggak ada apa-apanya deh buat apapun–siapapun, yang lebih besar dari jagat raya ini. Kita seuprit. :’)

.
 
 Ngomong-ngomong soal bintang, menurut fisika, kita semua adalah serpihan bintang. “We are stardust” Kedengarannya puitis, tapi ya emang gitu. Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosfor, Sulfur dan berbagai elemen kehidupan lainnya dibentuk dari reaksi nuklir di dalam bintang. Setiap atom yang membentuk diri kita berasal dari bintang yang telah mati itu, meledak. Supernova! Bintang mati, kehidupan lainnya hadir. Evolusi dimulai, sampai muncul kita, spesies manusia.

Tapi nggak berarti semua atom itu berasal dari ledakan yang sama. Atom dari tangan kanan kita mungkin berasal dari bintang yang berbeda dari atom yang ada di tangan kiri kita.
Hidup kita memang kecil, tapi indah ya. Carpe diem! Lanjutkan hidup..

Somewhere, something incredible is waiting to be known. -Carl Sagan

Categories
Share

AASA National Space Camp Indonesia

Saya baru aja ikutan AXE Apollo Space Academy (AASA) National Space Camp selama 3 hari ini (27-29 Sept 2013) di Lapangan Terbang Polisi Udara, Pondok Cabe. Acara ini tujuannya buat mencari 3 orang terbaik, untuk lanjut ke AASA Global Space Camp, Florida, AS pada Desember 2013 nanti, sebagai brand ambassador AXE dan orang Indonesia pertama yang ke luar angkasa.

Jadi, katanya ada sekitar 82.000 orang Indonesia yang mendaftar, dan ada 2 jalur pendaftaran (Reguler dan VIP). Dari jalur reguler, terpilih 5000 orang dengan jumlah vote tertinggi. Nah, 5000 orang ini dihubungi via email untuk mengirim data seperti biodata, riwayat kesehatan, psikotest dan berkas identitas lainnya. Dari berkas data itu, screening dilakukan dan terpilih 20 peserta, termasuk saya didalamnya. Lalu dari jalur VIP, juga terpilih 20 orang dengan skor pembelian produk AXE Apollo terbanyak. (10 dari store Indomaret, 10 dari Alfamart). Totalnya ada 40 orang terpilih untuk ikut AASA National Space Camp Indonesia (tapi yang hadir 36 orang).

Kamis 26 Sept, saya diberangkatkan dari Bandung ke Jakarta (bersama peserta lainnya yang berasal dari Bandung). Kami tiba di Poins Square Apartement dan menginap disana. Pagi harinya, Jumat, saya sudah berkumpul dengan seluruh peserta dari berbagai daerah dan kami diberangkatkan ke area pelatihan. Serangkaian tes kesehatan dilakukan, mulai dari cek feses, pengambilan darah, pemeriksaan mata, paru-paru hingga rekam jantung. Kami dibekali latihan baris-berbaris, kemudian lanjut ke ceremonial pembukaan acara.

48d07286274611e3852e22000ae90903_7

Kapten William, Brand Manager AXE Indonesia, didampingi 2 sexy agent turun dari helikopter kemudian dijemput 2 axeangel.


BVKgpuiCUAAmUIf
Setelah acara pembukaan kami ditantang untuk melakukan rappelling turun vertikal menggunakan tali dari ketinggian 45 meter dan wall climbing. Ini kali pertama bagi saya dan saya cukup menikmati rappeling itu, tapi tidak dengan wall climbing. Saya terpeleset saat baru menginjakkan kaki di batu pertama dan panitia tidak memberi kesempatan untuk mengulang. :<

Oiya, kami diberi goodie bag (yang lebih mirip koper sih) berisi 4 seragam, 1 jaket MA-black flight, topi, alat tulis, dan peralatan mandi.IMG_2423

Malam harinya, diumumkan 10 peserta terbaik dan mereka berkesempatan untuk ikut naik pesawat Cessna keesokan harinya.

Hari kedua, sementara 10 peserta terbaik naik pesawat keliling wilayah lapangan terbang dan sekitarnya, saya dan sisa peserta lainnya belajar di kelas aeronautika kemudian mengerjakan test tertulis. Setelah itu kami mendapat kesempatan mencoba flight simulator cessna. Menerbangkan pesawat cessna dari landasan kemudian mendaratkannya kembali, dengan alat kontrol yang mirip dengan yang ada di pesawat aslinya.

Setelah itu, seluruh peserta mengikuti serangkaian interview dan psikotest sampai sore. Malam harinya pengumuman 3 orang terbaik pun dilaksanakan. Terpilihlah Krisna, Figra dan Rizman. Figra dari Bandung termasuk peserta awal yang saya kenal. 😀 Figra, Krisna dan Rizman memang peserta yang tangguh.

Sementara itu, seluruh peserta AXEtronot mendapat plakat, sertifikat, dan hadiah gadget yang berbeda-beda seperti MP3 Player, iPod Shuffle, Nokia Asha, Galaxy Chat, Galaxy Young, Canon Ixus, dan Galaxy Grand. Gadget yang diperoleh sesuai dengan poin yang didapat dari aktivitas media sosial. Saya kurang aktif update statusnya, jadi cuma dapat Nokia Asha. Hm, malam itu pun ditutup dengan pesta BBQ dan DJ di dalam hangar.

 IMG_2332IMG_2335proxy (1)

foto bareng Captain, MC, temen satu barrack. Barrack 4!

Thanks AXE, Capt. William Wijanarko, dan semuanya yang terlibat di AASA National Space Camp. Ini benar-benar pengalaman yang mahal. Mendapat teman baru dan aktivitas-aktivitas seru lainnya. Thanks! 😉

*foto dan video seluruh kegiatan acaranya lagi proses editing, nanti bakal di share, mungkin juga bakal tayang di TV. hahaha*