Categories
Boleh tahu? Opini Share

Mengenang 9 tahun tsunami. Siapkah kita jika terjadi lagi?

Hari ini tepat dengan 9 tahun kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan beberapa bagian negara lainnya. Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, timeline twitter saya dipenuhi dengan tweet-tweet mengenang kejadian dahsyat ini.

Iya, gempa dan tsunami saat itu begitu dahsyat, goncangan bumi yang paling kuat yang pernah saya rasakan sampai-sampai saya tak sanggup berdiri saat itu.
Tahun ini, tak seperti tahun sebelumnya, saya tak ingin berlarut dalam kesedihan itu, dan saya rasa sebagian besar rakyat Aceh juga sudah move on dari kejadian ini. Saya sendiri lebih memilih memperingati masa kini dengan isu siapkah kita jika terjadi kejadian serupa?
Iya, banyak yang meninggal saat tsunami 2004 karena ketidaksiapan, kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti saya sendiri saat itu, bingung harus berbuat apa, saya ikut lari mengikuti arus ribuan manusia yang juga berlari ke satu arah, menjauh dari pesisir.
Sementara, saat itu dikabarkan, satu pulau yang juga masuk dalam wilayah provinsi Aceh, pulau Simeulue, yang secara letak geografis lebih dulu terkena gelombang tsunami, jumlah korban jiwanya hanya 7 orang. Itu sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang terkena dampak.
Ternyata, masyarakat Simeulue telah mengenal tsunami dari kearifan lokalnya. Cerita turun-temurun lewat nyanyian rakyat memberitahu warga Simeulue apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa besar.
beginilah liriknya:
Enggel mon sao curito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwi lah da sesewan
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan dan navi da
yang artinya:
Dengarlah sebuah cerita
Pada zaman dahulu
Tenggelam satu desa
Begitulah mereka ceritakan
Diawali oleh gempa
Disusul ombak yang besar sekali
Tenggelam seluruh negeri
Tiba-tiba saja
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari
Tempat kalian yang lebih tinggi
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini betul-betul
Pesan dan nasihatnya
(dikutip dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=275107325946280&story_fbid=277995378990808)
buat yang belum tau, di Aceh ada 13 suku bangsa asli, yaitu suku Aceh, suku Gayo, Aneuk Jamee, suku Singkil, suku Pakpak, suku Alas, suku Kluet, suku Tamiang, suku Devayan, suku Lekon, suku Sigulai, suku Haloban dan suku Nias
Nah, lagu tadi adalah lagu dalam bahasa Devayan, masyarakat/suku yang mendiami pulau Simeulue.
Masyarakat Simeulue telah mengenal gelombang besar atau tsunami itu dengan nama Smong dari kejadian ratusan tahun lalu dan diceritakan lewat lagu tersebut. Namun, ternyata perlu dicatat bahwa tak semua tsunami ditandai dengan air yang surut.

Saat tsunami (yang disebabkan pergerakan lempengan bumi) terjadi, ada gelombang positif dan gelombang negatif. Dalam kejadian tahun 2004, gelombang tsunami yang bergerak ke barat (Sri Lanka, Maladewa..) dari titik lempeng adalah gelombang positif, sedangkan gelombang tsunami yang bergerak ke arah timur (Aceh) adalah gelombang negatif, dimana gelombang negatif ini bergerak tanpa ciri-ciri air laut yang surut dan kekuatannya lebih merusak.

Kebetulan pergerakan lempeng di barat Sumatera mengakibatkan tsunami dengan ciri-ciri demikian, sehingga “warning system” masyarakat Simeulue bekerja dengan baik. Maka bisa jadi ini mitos yang berbahaya (terutama bagi wilayah lain selain barat Sumatera) mengingat pergerakan lempengnya berbeda-beda dan akan menimbulkan gelombang tsunami yang berbeda pula (tidak ada tanda-tanda air surut, tiba-tiba gelombang tsunami menerjang).
Jika ingin penjelasan lebih jelas, sila lihat video berikut ini, Kronologis detik-detik Tsunami 2004:


(lompat ke menit 42:40, gambaran tentang gelombang positif dan negatif)

Hal ini mengingatkan kita bahwa manusia benar-benar rentan terhadap bencana alam, dimanapun dan kapanpun. Terutama jika tsunami terjadi, kita belum punya warning system yang pasti.

Saya tadi posting beberapa tweet tentang ketidaksiapan ini:

#9thnTsunami move on. Seberapa siap siaga kita dengan bencana alam yg mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal kita?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami mungkin pun bukan lingkungan yg biasa kita tempati. Bencana jg mungkin trjadi di tempat kita berlibur. Pikirkan kemungkinannnya
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami Kalau terjadi bencana a, harus bagaimana? kalau b, pikirkan, harus bertindak seperti apa? Siaga bencana mengurangi korban jiwa.
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Terus kebetulan setelahnya juga ada tweet dari mbah @sudjiwotedjo tentang penyebutan bencana yang terlalu sadis bagi alam. Hm, ada benernya juga, apa yang kita sebut bencana alam ini kan cara alam menyeimbangkan diri, seperti kita ketahui Bumi dan alam ini terus berkembang dan wajahnya akan berubah, baik karena ‘bantuan’ manusia (longsor)  maupun bukan (seperti gempa, tsunami).

@sudjiwotedjo iya tergantung perspektifnya, mbah. dalam bencana alam ada yg disebut kerugian dan korban jiwa. dalam sabda alam, disebut apa?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

@zakwannur Ya mari kita pikirkan bersama, termasuk bersama pusat bahasa. Gmn cara kita menamai “kerugian” dan “korban jiwa” dlm Sabda Alam
— Bpk of Bpk Bangsa (@sudjiwotedjo) December 26, 2013

@sudjiwotedjo jadi, misalnya: siaga dan penanggulangan bencana itu tetap ada buat perspektif yg gak mau mengalami kerugian..
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Ya begitulah menurut saya, kita sebut bencana alam jika menurut kita itu merugikan dan harus dihindari (dengan siaga dan mitigasi bencana), bisa kita sebut ‘sabda alam’ seperti mbah @sudjiwotedjo katakan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kedua-duanya bisa berdampingan.

Semoga bermanfaat.

Categories
Kosmos Opini Share

Stargazing: Betapa kecilnya kita

Stargazing atau kalo dalam bahasa Indonesia nya semacam melamun sambil ngeliat bintang/langit malam adalah salah satu hobi saya sejak kecil. Ceritanya, gara-gara dulu di Aceh sering mati lampu (sekarang juga sih –“), saya jadi sering tiduran di luar. Ngeliat bintang 😀
Saya ingat betul gimana banyaknya bintang yang keliatan dulu, dibanding sekarang yang gak banyak lagi karena polusi cahaya di kota. Saya ingat betul untuk pertama kalinya melihat bintang jatuh dan sejak saat itulah saya suka melihat langit malam hari. 😀

Tapi sekarang, saya udah jarang menghabiskan waktu untuk melihat langit malam. Selain karena makin sedikit waktu untuk melamun, alasan lainnya karena bintang yang keliatan selalu yang itu-itu aja (gara-gara polusi udara+polusi cahaya). Yang keliatan cuma 1,2,3 bintang, Sirius tok atau malah Bintang Kejora (yang sebenarnya bukan bintang). Hahah. Jadinya cuma bisa liat posisi bintang dari Google Sky Map, teknologinya sangat membantu. Cukup arahin smartphone arah tertentu buat tau bintang apa yang ada disana sesuai dengan lokasi koordinat kita dan realtime. 🙂

Sedih emang tinggal di kota besar, cahaya bintang kalah sama cahaya lampu kota. Lebih sedih lagi bayangin anak-anak di masa depan, mungkin malah nggak tau ada bintang di langit. Kalo udah gini jadi kangen Aceh, hampir selalu ada bintang jatuh setiap kali saya stargazing disana. Langit kota Banda Aceh sekarang memang nggak sebagus dulu sih, tapi untuk di tempat nenek saya, Tangse, langitnya masih cukup bagus. Kalo diliat dari gambar dibawah ini, mungkin langit Tangse itu sekitar nomor 3-4. Untuk kota Banda Aceh mungkin di antara level 5-7.

Amazing-Stars-Night-Sky
(gambar: level polusi cahaya)

Daaaaaaaaan pengalaman stargazing paling cakep mungkin waktu saya ada di Iboih, Pulau Weh, Aceh juga. Saya berbaring di dermaga terapung, menghadap ke langit, diiringi musik New Age, ditambah ayunan dan suara dari ombak. Ada bintang jatuh pulak. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. :’)

IMG_3856-Edit-2

Sesekali melamun, sambil ngeliat bintang, mungkin nggak menyelesaikan masalah kita. Tapi buat saya sih perlu. Namanya juga hobi. :))

Melihat bintang mengingatkan saya betapa kecilnya kita ini, manusia, yang kadang merasa superior. Sombong, merasa diri makhluk terhebat di seluruh jagat raya. Merasa diri kita adalah pusat dari jagat raya dengan peradaban paling tinggi? Padahal dengan ratusan miliar galaksi yang terpantau, dan dengan rata-rata ratusan bahkan ribuan miliar bintang dalam tiap-tiap galaksi, bukan nggak mungkin ada kehidupan lain, yang mungkin peradabannya jauh lebih tinggi daripada manusia. Saking cerdasnya mereka, mungkin mereka pernah mengamati bumi, kemudian pergi, nggak berminat menghubungi kita, karena melihat kelakuan bodoh yang ada didalamnya. Duh.

TB7UxqB

“Jangan berimajinasi alien mau invasi dan bikin koloni di Bumi. Mereka gak mau ke tempat yang penuh kekacauan.” Hahah.

ufos_leaving_earth_517439
Oiya, coba hayati perbandingan ini, Mungkin cukup menggambarkan betapa kecilnya kita. Bumi yang bagi kita cukup besar, dibanding planet, bintang, galaksi, sekumpulan galaksi dst..

Perbandingan Semesta
Itu baru gambaran dari semesta yang berhasil dijangkau peralatan manusia. Bayangin lebih luas lagi. Betapa kecilnya ya kita ini, dan rasanya masalah-masalah yang kita ributkan itu nggak ada apa-apanya deh buat apapun–siapapun, yang lebih besar dari jagat raya ini. Kita seuprit. :’)

.
 
 Ngomong-ngomong soal bintang, menurut fisika, kita semua adalah serpihan bintang. “We are stardust” Kedengarannya puitis, tapi ya emang gitu. Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosfor, Sulfur dan berbagai elemen kehidupan lainnya dibentuk dari reaksi nuklir di dalam bintang. Setiap atom yang membentuk diri kita berasal dari bintang yang telah mati itu, meledak. Supernova! Bintang mati, kehidupan lainnya hadir. Evolusi dimulai, sampai muncul kita, spesies manusia.

Tapi nggak berarti semua atom itu berasal dari ledakan yang sama. Atom dari tangan kanan kita mungkin berasal dari bintang yang berbeda dari atom yang ada di tangan kiri kita.
Hidup kita memang kecil, tapi indah ya. Carpe diem! Lanjutkan hidup..

Somewhere, something incredible is waiting to be known. -Carl Sagan

Categories
Opini

Salah Kaprah dalam penggunaan Media Sosial

6a00d83451946d69e200e553ae6b178833-640wi Sepertinya Indonesia hampir selalu ada dalam peringkat teratas sebagai pengguna terbanyak media sosial populer seperti facebook, twitter, foursquare, instagram, path dsb. Gimana nggak, pengguna internet di Indonesia ada sekitar 60~80 juta orang dan 97,5% nya aktif menggunakan sosial media. Nah, dengan jumlah pengguna yang banyak ini, haruskah kita bangga? Relatif, bangga kalau ini adalah satu pertanda melek teknologi di Indonesia. Tapi gimana kalau ternyata jumlah yang banyak ini pertanda kalau orang Indonesia kurang kerjaan sampe-sampe bisa aktif di semua media sosial? Gimana kalo kita adalah korban dari tren yang akhirnya dimanfaatkan perusahaan jejaring sosial? Gimana kalo ternyata dengan jumlah pengguna yang banyak, mayoritasnya menyalahgunakan media sosial tersebut? 🙁

Penyalahgunaannya paling parah bisa saja seperti kriminal, pornografi atau kecanduan sampai mengakibatkan kemalasan. Tapi yang mau saya bahas sih, kesalahpahaman atau salah kaprah dalam penggunaan media sosial. Dengan jumlah pengguna yang banyak tadi, sepertinya banyak juga jumlah orang yang salah paham dalam media sosial.

Salah kaprahnya gimana? Menurut pantauan saya, sepertinya banyak yang menganggap tiap media sosial adalah sama, termasuk konsep hubungan antar pengguna didalamnya (kadang dianggap sama seperti facebook). Padahal.. menurut saya, media sosial bertahan dan populer karena menawarkan fitur yang berbeda atau konsep yang tidak sama dengan lainnya.

Emang bedanya gimana?  Kalo dari hubungan tiap orang/penggunanya, setidaknya menurut saya begini..

  • Facebook

Kita bisa menambah teman yang kita kenal dekat, sekedar kenal atau bahkan orang yang ingin kita kenal (belum/gak kenal). Dari tiap-tiap orang tersebut, kita bisa bagi lagi dalam kelompok yang berbeda dengan menggunakan fitur list. Kita bisa masukkan kedalam list imageClose Friends (teman dekat), imageFamily (keluarga), Friends (teman biasa), imageAcquaintances (sekedar kenalan), bahkan imageRestricted (terbatas).

Fitur list ini sangat berguna untuk privasi dan prioritas dalam membagikan informasi di facebook. Contoh kita bisa memilih hanya membagikan info/status/foto kepada teman dekat, dan jika teman yang ada di dalam list orang dekat membagikan status/info, akan muncul di notifikasi facebook kita.

Kemudian contoh lainnya, teman di dalam list restricted bisa melihat info/status sebatas yang kita bagikan kepada publik. Kita bisa membagi nomor telpon hanya kepada teman (tidak termasuk kenalan) dan sebagainya.

  • Twitter

Kita bisa mengikuti update dari semua orang yang kita inginkan. Tanpa ada kewajiban bagi orang yang kita ikuti untuk juga mengikuti kita (follow back). Namun untuk dapat berkomunikasi lewat pesan pribadi (Direct Message), pengguna harus saling mengikuti. Kita bisa mengatur agar hanya orang yang kita setujui untuk mengikuti kita yang dapat melihat status kita (protected tweets). Tapi konsekuensinya, mention kita tidak dapat terbaca oleh semua orang. Salah kaprahnya, gara-gara gak semua orang tau ini, jadi suka dongkol terus nyalahin orang lain gak baca/balas mentionnya. (Baca postingan saya sebelumya tentang akun twitter yang dikunci/protected tweets)

  • Foursquare

Sebaiknya kita hanya menambah teman yang kita kenal baik, karena dari foursquare kita, orang lain bisa mengetahui lokasi terkini kita ada dimana.

  • Instagram

Konsep hubungan antar penggunanya mirip seperti twitter, hanya saja fokusnya pada sharing video atau gambar secara instan (mobile). Jadi tidak ada kewajiban untuk follow back. Dan nggak bisa DM-DMan.

  • Path

Tiap orang yang kita tambahkan sebagai teman sebaiknya adalah teman atau orang-orang yang benar-benar kita kenal dekat, dimana kita bisa mengekspresikan diri kita tanpa harus berpura-pura. Seperti kata path: “Honest, authentic, genuine, you.”

image

Sepertinya yang paling banyak salah kaprah adalah dalam penggunaan Path. Orang-orang menambah sembarang teman, padahal dalam path jumlah teman sangat terbatas, karena path percaya teori bahwa manusia tak bisa menjalankan hubungan secara aktif kepada lebih dari 150 orang dalam hidupnya. Dan harusnya nggak ada gengsi-gengsian tuh di Path, itu sebabnya kenapa kalau kita mengunjungi profil teman di path, teman kita bakal diberi tau tentang kunjungan kita tersebut. Teman dekatmu gak akan berpikiran macam-macam, cuma berpikir “oh, dia lagi pengen tau kabarku”. 🙂

Itu juga sebabnya di path kita bisa share hal detil seperti apa yang sedang kita baca, apa yang kita tonton, kapan kita tidur dan kapan kita bangun.

Nah banyak lagi media sosial lainnya. Bayangin apa gunanya semua media sosial itu kalau konsep hubungan antar pengguna/pertemanannya sama, fokusnya sama, fiturnya sama dsb. 😐

Intinya sih..

“Nggak semua media sosial sama, kalau semua dianggap sama saja, untuk apa pakai semua?”