Categories
Opini

Pembeli bukanlah Raja.

Dalam lingkungan yang mengagung-agungkan kelas sosial, ego dan gengsi, terkadang permasalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Salah satunya sering terjadi di dunia bisnis, antara pembeli dan penjual (atau kadang antara konsumen dan karyawan dari pemilik bisnis).

Kita sering mendengar ungkapan “pembeli adalah raja”, tapi benarkah pembeli adalah raja? Masih relevankah konsep pembeli adalah raja?

Bagi saya pribadi, konsep ini sudah tidak relevan. Bagi saya, baik sebagai pembeli, ataupun penjual, dua-duanya adalah mitra, keduanya adalah dua hal yang saling membantu dan bekerja sama. Pembeli dapat enak, penjual dapat enak.

Tapi kadang-kadang, pembeli tak dapat yang dia mau. Itu pun dari pelayan/karyawan yang dipekerjakan, bukan dari pemilik bisnisnya. Karena bisa dibilang, pasti setiap pemilik bisnis ingin pelanggannya merasa puas.

Nah, permasalahannya dari berbagai hal yang menimbulkan ketidakpuasan itu, konsumen/pembeli tidak mau tau dengan proses panjang yang harus dilalui bisnis.

Dalam proses panjang itu salah satunya adalah perekrutan sumber daya manusia (SDM). Konsumen tidak mau tau bahwa kadang bisnis mengalami kesulitan dalam memperoleh SDM yang baik, apalagi di lingkungan yang mengagung-agungkan kelas sosial itu. Dengan kata lain, mungkin itu juga lah satu sebabnya kenapa terjadi konflik antara konsumen dan pelayan. Konsumen merasa superior, sedangkan pelayan pun adalah manusia yang tak mau direndahkan.

Selain itu juga ada faktor-faktor lainnya yang tak dipedulikan oleh konsumen. (Baca juga: #ObrolanTaksi: “Emang situ doang yang mau duit?”). Faktor lainnya, seperti dalam artikel yang saya sebutkan itu, kadang adalah hal yang tak terlintas di pikiran kita sama sekali.

Dalam artikel itu, saya menuliskan kisah seorang sopir taksi pernah bercerita kepada saya tentang kebijakan perusahaannya. Perusahaannya memberlakukan sistem poin pelanggaran pelayanan, yang mana jika sopir memenuhi poin itu, maka perusahaan bisa memberhentikan sopir dari perusahaan. Dari mana poin itu bisa didapat? Dari pengaduan konsumen taksi.

Nah, sopir taksi itu menceritakan, dalam beberapa kasus, pengaduan itu didapat dari masalah-masalah sepele berupa kesalahpahaman atau perlakuan penumpang/konsumen yang semena-mena. (Mungkin karena mental pembeli adalah raja?) Akibat dari masalah sepele itu dan mental raja itu, orang lain pun kehilangan pekerjaannya.

Begitulah.. kalau dari konsep pembeli adalah raja, mungkin bisa kita bilang sang raja tak puas dengan pelayannya. Hingga akhirnya raja pun marah.

Raja mungkin tak menyadari kalau pelayannya melakukan kesalahan itu karena grogi, kaku atau takut setelah melihat raja. Raja mungkin tak menyadari, perlakuan atau penampilannya yang merasa lebih tinggi dan berkuasa telah membuat pelayan tak menghormatinya. Atau, mungkin raja sudah tersenyum tapi murka karena pelayan tak senyum, tanpa peduli bagaimana hari-hari yang dilalui oleh pelayan saat itu.

Mungkin si pelayan lagi tertimpa sial, mungkin si pelayan sedang frustasi tapi harus tetap bekerja keras demi menghidupi diri dan keluarganya. Mungkin si pelayan sedang letih, mungkin pelayan lagi bersedih. Sebagai “raja”, apa banyak konsumen/pembeli yang peduli hal-hal seperti itu? Kebanyakan, tidak.

Kebanyakan dari kita tidak mau tau, yang terpenting bagi kita adalah kepuasan diri kita sendiri setelah mengeluarkan uang kepada pembantu, buruh, sopir, pelayan dan orang-orang lainnya yang memberikan jasanya kepada kita.

Kita lupa mereka juga manusia. Karena kita punya uang dan merasa berkuasa, bukan berarti kita bisa ikut “membeli” mereka. Hendaknya kalau pun masih menganggap (kita sebagai) pembeli adalah raja, jadilah raja yang bijaksana, berempati dan tak semena-mena.

Categories
Opini

Sehari Tanpa Internet

Sehari Tanpa Internet? Mungkin gak ya? Mungkin aja.. Banyak kok yang bertahan hidup tanpa internet. Baru beberapa hari lalu, saya mendaki gunung dan ternyata disana sulit untuk dapat koneksi internet. Bukti bahwa masih ada daerah di Indonesia yang belum terjangkau internet. Apa artinya? Masih banyak rakyat indonesia yang BuNet alias buta internet alias belum mengenal dan merasakan internet.

Puncak Gunung Gede.Tapi, tanpa internet apa saya baik-baik saja? Oke, balik lagi ke cerita ketika mendaki gunung, hasilnya saya merasakan tiga hari tanpa internet. Saya tidak punya pilihan dan banyak sekali informasi yang saya lewatkan, seperti kabar dari grup chatting keluarga, ulang tahun teman, bahkan saya telat mengetahui cerita teman saya yang wisuda. :/

Pernah juga saya kehabisan tiket karena tidak dapat memesan lebih awal yang seharusnya bisa dilakukan lewat internet dan yang paling parah juga pernah mengalami kerugian uang gara-gara terlambat mengakses berita lewat internet. Serius. Kalau pernah berjualan lewat internet, pasti tau kan rasanya tanpa internet? 🙁

Ya, resiko hari-hari tanpa internet. Tapi, ketika internet ada, dan kita punya pilihan serta bisa menggunakannya, apa iya kita memilih untuk tidak menggunakan internet?

Beruntung kita tinggal di negara yang terjamah koneksi internet, meskipun belum menyeluruh. Internet telah banyak memudahkan kehidupan kita sehari-hari. Tanpa disadari, kemajuan ilmu pengetahuan sekarang pun dibantu dengan internet, karenanya informasi menyebar lebih mudah. Tapi.. harus pintar-pintar memilah informasi, diantara banyaknya informasi itu, ada informasi palsu dan sampah.

Walaupun banyak informasi palsu dan sampah, internet bukan melulu berisi hal negatif. Kadang orang-orang memandang internet sebagai hal negatif atau banyak merugikannya.

Eh… katanya kita bisa lupa sama lingkungan sekitar karena internetan. Padahal, dari internet kita bisa tahu berita terkini, dari keluarga, relasi bahkan berita internasional pun bisa sampai di depan kita dengan cepat.

Katanya kita bisa malas belajar karena internetan. Wah.. ini sih tergantung penggunanya, saya justru banyak belajar dengan sumber dari internet. Dengan internet bahkan kita memiliki lebih banyak referensi dan bisa memilah-milih informasi. Kalau dulu katanya buku adalah jendela dunia, sekarang internet pun adalah jendela dunia, di internet kan juga banyak buku. hehehe

Banyak lagi hal positif yang bisa didapat dari internet. Selain agar mendapat informasi dan bisa belajar, dengan internet kita juga bisa bekerja, melakukan transaksi keuangan dengan internet banking, berhubungan dengan sahabat, membeli barang yang rata-rata lebih murah dari toko biasa, memesan tiket nonton, membeli tiket kereta api tanpa perlu ke stasiun dan masih baaaaaanyak lagi yang bisa dilakukan dengan bantuan internet.

Itulah mengapa menurut saya internet itu penting, banyak tenaga dan waktu seharusnya digunakan untuk.. misalnya pergi membeli, membayar.. bisa diganti dengan hal lainnya. Berkat internet!

Hm, internet gak melulu hal negatif kan? Kalau rasanya internet adalah hal negatif, itu mungkin belum merasakan manfaat positif internet yang lainnya. 😀

Menurut saya:

Orang-orang beruntung adalah orang yang punya akses informasi. 

Nah, dimana tempat kita bisa mengakses informasi? Salah satunya; Internet! Ayo kita genggam internet dan perluas wawasan.

Ajak orang lain yang buta internet untuk merasakan kebaikan internet dengan paket data spesial dari: http://telkomsel.com/genggam-internet. Kalian bisa menghadiahkan paket internet buat mereka yang belum merasakannya. *Dan jangan lupa, ajarkan cara berinternet dengan sehat dan aman, agar internet lebih terasa manfaatnya. 🙂

Untuk Indonesia yang makin hebat!
Categories
Opini

Mengapa kita candu pada hal yang merusak?

Secara natural, manusia memiliki insting bertahan hidup. Apapun yang dilakukan manusia selama hidupnya, seperti aktivitas ekonomi, sosial, politik, religi, kriminal dan semuanya adalah usaha manusia yang bertujuan tetap hidup. Ada yang melakukan aktivitas tersebut untuk tujuan jangka pendek, seperti hanya untuk kebutuhan diri sendiri. Ada juga yang melakukan aktivitasnya untuk kebutuhan diri dan bahkan untuk keberlangsungan keturunan yang mewariskan keunggulan gennya.

Jika insting manusia adalah bertahan hidup, lalu mengapa manusia candu dengan hal-hal yang merusak dirinya seperti rokok, minuman alkohol, zat adiktif, pornografi dsb?

Jawabannya adalah karena ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap apa yang merusak dirinya tersebut. Selain itu, dibalik candunya hal atau aktivitas tersebut ada pengorbanan yang dirasa pantas untuk saat itu, misal zat adiktif dan pornografi diketahui merusak otak, namun dirinya merasakan kesenangan. Pengorbanan (seperti rusaknya otak) ini dirasa tak seberapa dengan kesenangan yang didapat saat itu. Sebaliknya ada pula yang merasa kesenangan yang didapat tak seberapa dengan pengorbanan yang terjadi.

Jadi, jika pun manusia tau efek buruk yang akan terjadi, manusia akan tetap mengkonsumsi atau melakukan aktivitasnya tergantung seberapa besar penghargaannya pada satu-satunya hidup yang tak kekal ini.

Jika hidupnya dirasa lebih berharga, maka pengorbanan yang dilakukan untuk hal candu tersebut terasa sangat mahal, sehingga dirinya tak ingin melakukan pengorbanan itu (baik pengorbanan waktu maupun fisik)
.
Terlepas dari baik buruknya aktivitas-aktivitas tersebut, sekali lagi menurut saya, semua adalah demi keberlangsungan hidup sendiri (dan keturunan). Poligami, monogami, membunuh, merawat, berdagang, mencuri, beribadah, (dan kadang) bunuh diri juga termasuk.

Ya, kadang bunuh diri pun adalah salah satu cara manusia ingin hidup (..sebagian manusia lebih tepatnya). Manusia sulit menerima keadaan bahwa dirinya tak kekal, kematian selalu menghantuinya dan pertanyaan ada apa dibalik kematian menghampirinya. Karena tak puas dan tak ingin menerima kenyataan yang menyakitkan (jika ternyata mati itu mati) dan juga sebagai bentuk insting bertahan hidup, sebagian manusia memilih percaya setelah mati di dunia, hidupnya akan berlanjut lagi dan kekal begitu seterusnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang tak percaya dengan kehidupan setelah mati tetapi bunuh diri? Tentu ada pengorbanan juga dalam memilih keputusan tersebut. Kita tak tau seberapa sulit kehidupannya dan apakah kita sendiri mampu jika ditempatkan dalam kondisinya, sehingga baginya mungkin mengakhiri hidupnya lebih baik. Layaknya bisnis yang selalu merugi sehingga memilih tutup.

Nah, apakah hidup kita saat ini terasa seperti bisnis yang selalu merugi? Semoga tidak..
Sadari saja, kelahiran kita di dunia bisa jadi bukanlah hal yang diinginkan orang tua kita, tapi lihatlah sudah berapa tahun kita hidup, pengorbanan yang mereka lakukan selama kita dikandungan itu sangat-sangat besar. Bisa saja kita terbunuh/dibunuh sebelum kita lahir di dunia.

Categories
Boleh tahu? Opini

Bahaya Indoktrinasi Sejak Kecil

Apa itu indoktrinasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan indoktrinasi adalah pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja. Ya, tak boleh dikritik. Inilah mengapa ia disebut indoktrinasi.



Menurut saya, indoktrinasi apalagi jika dilakukan pada anak kecil adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Bayangkan saja, anak-anak memiliki kemampuan untuk menyerap suatu ajaran dengan cepat, contohnya seperti kita yang dulu lebih mudah belajar membaca dan berbahasa daripada kita ketika dewasa.

Jika anak-anak diajari sesuatu sejak kecil, maka ajaran tersebut akan kuat terekam dalam otak anak-anak tersebut sampai ia dewasa. Beruntunglah jika sesuatu yang diajarkan adalah kasih sayang. Namun sangat disayangkan jika yang diajarkan adalah kebencian terhadap yang berbeda.


Indoktrinasi membunuh sisi kritis dan kebebasan anak-anak untuk bertanya. Anak-anak yang ingin menguji ide yang di doktrin, biasanya akan dilarang dan bahkan diancam jika tetap bertanya. Memang indoktrinasi dirancang sedemikian rupa agar doktrin yang ditanam dapat diterima begitu saja, sehingga siapapun yang bertanya akan takut dan akhirnya korban indoktrinasi pun yakin bahwa doktrin tersebut benar dan harus diperjuangkan sampai mati, sehingga doktrin tersebut tetap hidup.

Mereka, anak-anak yang berhasil didoktrin, akan diperbudak sampai dewasa. Mereka tak bebas berpikir, mereka tak bebas memilih. Anak-anak tentu saja tak dapat memilih mereka akan lahir dimana, sayang, setelah tak dapat memilih lahir dimana, mereka diberi label oleh keluarga/lingkungan tempat lahirnya. Tentu anak-anak tersebut tak pernah memilih label itu, apalagi dengan pertimbangan yang matang.

anak komunis, anak marxist, anak ateis, anak muslim, anak kristen… mengapa memberi label pada anak?

Anak-anak yang berhasil diindoktrinasi sejak kecil kemudian bersatu dalam grup-grup, menjadi dewasa dan akhirnya mendoktrin. Mungkin tak diajari membenci, tapi mungkin yang diajarkan adalah orang dengan ide berbeda itu hina. Mereka yang berhasil didoktrin akan diadu domba dan mungkin menjadi alat politik untuk memuluskan perjalanan suatu hal/ide/seseorang untuk menguasai dunia.

dailymail.co.uk: How North Korean children are taught to hate the American at kindergarten

Proses melepaskan diri dari indoktrinasi bukanlah hal mudah. Melawan pikiran sendiri, melawan ide yang telah ditanam kedalam pikiran sejak kecil. Proses indoktrinasi tak sama dengan menanamkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan (sains) bukanlah indoktrinasi karena prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan menuntut evaluasi diri yang kritis dan sikap mempertanyakan pikiran sendiri (skeptis).

Karena itu, jangan mendoktrin anak-anak kita, biarkan mereka membentuk opininya sendiri dan memilihnya ketika dewasa. Sebagai gantinya, ajarkan anak-anak cara berpikir yang baik, ajarkan mereka cara bernalar dan ajarkan mereka nilai-nilai kemanusiaan.

Stop indoktrinasi sejak kecil, sehingga akan terbentuk generasi masa depan yang sulit untuk diadu domba. 🙂

Categories
Opini

Semua Yang Ada di Dunia Ini adalah Hal Buruk

Hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan dan semua pilihan itu buruk. Semua ada pro dan kontranya, begitu kata orang. Ada juga yang mengatakan apapun yang kita lakukan, selalu ada orang yang anti atau pun memandang negatif terhadap hal itu. Ini adalah bukti apapun yang ada di dunia ini adalah hal buruk, dan yang kita pilih adalah hal buruk yang menurut kita baik.

Kita memilih yang terbaik dari yang buruk-buruk. Mempertimbangkan efek dari keburukan mana yang bisa kita toleransi, dengan nafsu dan pembenaran dari kita sendiri.

Banyak contohnya, bicara soal merokok misalnya, ada orang yang tak setuju, ada yang setuju, salah satu alasan yang setuju: karena ekonomi orang lain. Tiba-tiba kita tak memedulikan kesehatan kita (dan orang sekeliling kita) karena itu mata pencaharian orang lain.

“Kalau semua orang berhenti merokok, bagaimana nasib pekerja di perusahaan rokok itu?” Tiba-tiba kita peduli tentang uang orang lain, dan tak melihat orang-orang yang tersiksa karena rokok. Sangat dermawan. Tak masalah, saya tak mempermasalahkan perokok yang merokok di tempat yang tepat..

Ada kampanye matikan televisimu. Kampanye yang muncul karena maraknya acara tak bermutu di industri pertelivisian Indonesia. Saya tak mendengar pembelaan dari orang-orang yang mirip seperti kasus rokok tadi, misal seperti “Kalau banyak orang serentak mematikan televisinya, kasihan yang ada di industri televisi, kasihan karyawan-karyawan perusahaan media televisi.”. Kenapa orang-orang yang tetap memilih menonton televisi tak berkata seperti itu? Suka-suka gue dong mau nonton mau nggak, TV-TV gue kok. 🙂

Tiap-tiap dari kita ingin memenuhi kebutuhan kita sendiri, dalam kasus acara televisi, orang-orang yang tetap memilih nonton televisi itu karena butuh hiburan. Mungkin dalam kasus rokok pun demikian, ada hasrat memenuhi kebutuhan. Bedanya, menonton acara televisi (yang tak bermutu itu) ruginya di kita sendiri. Sedangkan merokok bisa merugikan orang disekitarnya (jika asapnya dibagi-bagi).

Semua ada pro dan kontra. Poligami yang dulu hal biasa, sekarang jadi aneh bagi orang-orang, khususnya perempuan. Tapi ketika poligami diterima, poliandri tak bernasib sama, dalam waktu bersamaan orang-orang bisa memaklumi poligami tapi tidak dengan poliandri. Kita memilih mana yang baik dari yang buruk, dengan pembenaran, untuk kenikmatan kita sendiri. Dalam kasus poligami yang saat ini lebih dimaklumi dari pada poliandri, laki-laki berhasil melakukan pembenaran dan mengarahkan opini sampai-sampai perempuan setuju di poligami.

Jika kita merubah sudut pandang, menjadi orang yang melihat orang lain yang memilih hal buruk. Percayalah, hal yang menurut kita buruk itu adalah hal terbaik yang dipilih oleh orang tersebut.

Semua pilihan yang kita hadapi di dunia ini berpotensi sebagai hal buruk di mata orang lain. Kita hanya memilih yang terbaik dari buruk-buruk itu. Jadi, orang-orang yang (menurut kita) memilih pilihan buruk sebenarnya memilih yang terbaik, setidaknya menurut mereka sendiri.

Begitulah kenyataan dunia, dan itulah mengapa akhirat ada di pikiran manusia, karena kita tak terima dengan segala ‘keburukan’ yang ada di dunia ini. Segala yang ada di akhirat adalah hal baik. Keabadian surga, kekekalan siksaan di neraka, semuanya adalah hal baik. Ya, kan?