Categories
#ObrolanTaksi

#ObrolanTaksi: “Saya mah pilih yang bagi-bagi duit.”

Taksi yang enak adalah taksi yang supirnya cerewet, alias suka ngobrol. Itu menurut saya, tapi saya rasa anda juga setuju, ya nggak?

Jadi, saya baru aja pulang dari AASA National Space Camp di Jakarta yang berlangsung 27-29 Sept 2013. Dari Jakarta saya bersama dengan peserta lainnya (yang berasal dari Bandung) diantar kembali ke Bandung. Sampai di Bandung, saya naik taksi menuju ke kosan.
Untunglah supir taksinya asik. Namanya pak Asep, dari Soreang. “yaah, biasa lah cep urang Sunda” katanya. Hahaha.

“Cep, gak merokok?” Tanya supirnya ke saya. *btw, cep (asep/acep) itu kayaknya panggilan coy gitu ala Sunda. Kayak tong (otong) kalo di betawi, atau gam (agam) kalo di aceh. atau panggilan mengakrabkan diri kayak sob, bro, boy. Gitu lah..

“Nggak pak” Jawab saya. “Wah, cep bagus! Jarang-jarang anak muda nggak suka merokok, sekarang mah disini anak SD aja udah mulai merokok.”
Bener kata pak Asep, memang saya pernah liat sendiri anak SD-SMP ngumpul sambil merokok, masih pake seragam. Kasian sih, saya pas masih SD udah cukup puas kalo buat gaya-gayaan doang dengan permen rokok. Saya udah pernah nyobain rokok, dan cukup sekali aja. Ntahlah, saya nggak suka sama asapnya.

Pak Asep udah 12 tahun kerja sebagai supir taksi, dia nyeritain juga sebelumnya pernah jadi supir truk dan itu pendapatannya lebih gede daripada sekarang. Bahkan katanya lebih besar pendapatan supir daripada pemilik truk. Gimana nggak, Rp. 75.000 wajib disetor ke pemilik, sisanya sekitar 130.000 dikantongi. Dan bayangin, itu duit segitu dijamannya kan gede. Sekarang, sebagai supir taksi, pak Asep harus setor 250.000 per hari ke perusahaannya.

Dari cerita masa lalu, pak Asep nostalgia, ceritain dirinya dulu cuma sekolah sampe MI doang (Madrasah Ibtidayyah, setingkat SD). “Kamu mesti syukur bisa sekolah sampe kuliah.” Dengan ijazah MI itu dulu pak Asep cukup bersyukur bisa diterima kerja di pabrik. Dan pak Asep kayaknya mengidolakan Soeharto. Nggak peduli apapun, yang penting beras murah dijamannya, katanya. hahaha. Trus saya tanya, kira-kira nanti tahun 2014 pilih siapa jadi presiden? “Saya pilih yang bayar saya aja. Tapi kalo Jokowi maju, nggak usah kampanye, nggak bayar saya, saya juga pasti pilih!” Menurut pak Asep, orang kayak Jokowi di pemerintahan kita itu langka. Orang jujur.

“Saya gak munafik, siapa sih calon yang waktu duduk pemerintahan nggak korup? Pas kampanye aja janji, pas kepilih korupsi. Jujur, saya kadang suka korupsi juga sih kalo ada kesempatan. (maksudnya pas penumpang nanya gak pake argo). Tapi saya juga terpaksa ngelakuinnya, buat makan nggak cukup.”

Iya sih, korupsi sebenarnya susah dihindari. Coba deh kita-kita yang suka ngeluh nggak suka dengan pemerintah kita yang korup. Udah jujurkah, udah sadarkah kalo diri kita ini juga kadang ngelakuin korupsi kecil? 🙂 Hati-hati pas tua korupsinya makin gede.

“Jaman dulu mah preman dikarungin” kata pak Asep.
“Hah?”
“Iya, kamu mah nggak inget, masih kecil apa belom lahir. dulu”
“Oh.. petrus pak?”
“Iya.” jawab pak Asep.
“Kalo sekarang, adanya preman makin berkembang ya pak”
“Iya, masuk DPR malah..” lanjut pak Asep sambil ketawa.

Dan, nggak lama kemudian saya sampai di tujuan. Kosaaaan! 😀

Categories
Opini

Salah Kaprah dalam penggunaan Media Sosial

6a00d83451946d69e200e553ae6b178833-640wi Sepertinya Indonesia hampir selalu ada dalam peringkat teratas sebagai pengguna terbanyak media sosial populer seperti facebook, twitter, foursquare, instagram, path dsb. Gimana nggak, pengguna internet di Indonesia ada sekitar 60~80 juta orang dan 97,5% nya aktif menggunakan sosial media. Nah, dengan jumlah pengguna yang banyak ini, haruskah kita bangga? Relatif, bangga kalau ini adalah satu pertanda melek teknologi di Indonesia. Tapi gimana kalau ternyata jumlah yang banyak ini pertanda kalau orang Indonesia kurang kerjaan sampe-sampe bisa aktif di semua media sosial? Gimana kalo kita adalah korban dari tren yang akhirnya dimanfaatkan perusahaan jejaring sosial? Gimana kalo ternyata dengan jumlah pengguna yang banyak, mayoritasnya menyalahgunakan media sosial tersebut? 🙁

Penyalahgunaannya paling parah bisa saja seperti kriminal, pornografi atau kecanduan sampai mengakibatkan kemalasan. Tapi yang mau saya bahas sih, kesalahpahaman atau salah kaprah dalam penggunaan media sosial. Dengan jumlah pengguna yang banyak tadi, sepertinya banyak juga jumlah orang yang salah paham dalam media sosial.

Salah kaprahnya gimana? Menurut pantauan saya, sepertinya banyak yang menganggap tiap media sosial adalah sama, termasuk konsep hubungan antar pengguna didalamnya (kadang dianggap sama seperti facebook). Padahal.. menurut saya, media sosial bertahan dan populer karena menawarkan fitur yang berbeda atau konsep yang tidak sama dengan lainnya.

Emang bedanya gimana?  Kalo dari hubungan tiap orang/penggunanya, setidaknya menurut saya begini..

  • Facebook

Kita bisa menambah teman yang kita kenal dekat, sekedar kenal atau bahkan orang yang ingin kita kenal (belum/gak kenal). Dari tiap-tiap orang tersebut, kita bisa bagi lagi dalam kelompok yang berbeda dengan menggunakan fitur list. Kita bisa masukkan kedalam list imageClose Friends (teman dekat), imageFamily (keluarga), Friends (teman biasa), imageAcquaintances (sekedar kenalan), bahkan imageRestricted (terbatas).

Fitur list ini sangat berguna untuk privasi dan prioritas dalam membagikan informasi di facebook. Contoh kita bisa memilih hanya membagikan info/status/foto kepada teman dekat, dan jika teman yang ada di dalam list orang dekat membagikan status/info, akan muncul di notifikasi facebook kita.

Kemudian contoh lainnya, teman di dalam list restricted bisa melihat info/status sebatas yang kita bagikan kepada publik. Kita bisa membagi nomor telpon hanya kepada teman (tidak termasuk kenalan) dan sebagainya.

  • Twitter

Kita bisa mengikuti update dari semua orang yang kita inginkan. Tanpa ada kewajiban bagi orang yang kita ikuti untuk juga mengikuti kita (follow back). Namun untuk dapat berkomunikasi lewat pesan pribadi (Direct Message), pengguna harus saling mengikuti. Kita bisa mengatur agar hanya orang yang kita setujui untuk mengikuti kita yang dapat melihat status kita (protected tweets). Tapi konsekuensinya, mention kita tidak dapat terbaca oleh semua orang. Salah kaprahnya, gara-gara gak semua orang tau ini, jadi suka dongkol terus nyalahin orang lain gak baca/balas mentionnya. (Baca postingan saya sebelumya tentang akun twitter yang dikunci/protected tweets)

  • Foursquare

Sebaiknya kita hanya menambah teman yang kita kenal baik, karena dari foursquare kita, orang lain bisa mengetahui lokasi terkini kita ada dimana.

  • Instagram

Konsep hubungan antar penggunanya mirip seperti twitter, hanya saja fokusnya pada sharing video atau gambar secara instan (mobile). Jadi tidak ada kewajiban untuk follow back. Dan nggak bisa DM-DMan.

  • Path

Tiap orang yang kita tambahkan sebagai teman sebaiknya adalah teman atau orang-orang yang benar-benar kita kenal dekat, dimana kita bisa mengekspresikan diri kita tanpa harus berpura-pura. Seperti kata path: “Honest, authentic, genuine, you.”

image

Sepertinya yang paling banyak salah kaprah adalah dalam penggunaan Path. Orang-orang menambah sembarang teman, padahal dalam path jumlah teman sangat terbatas, karena path percaya teori bahwa manusia tak bisa menjalankan hubungan secara aktif kepada lebih dari 150 orang dalam hidupnya. Dan harusnya nggak ada gengsi-gengsian tuh di Path, itu sebabnya kenapa kalau kita mengunjungi profil teman di path, teman kita bakal diberi tau tentang kunjungan kita tersebut. Teman dekatmu gak akan berpikiran macam-macam, cuma berpikir “oh, dia lagi pengen tau kabarku”. 🙂

Itu juga sebabnya di path kita bisa share hal detil seperti apa yang sedang kita baca, apa yang kita tonton, kapan kita tidur dan kapan kita bangun.

Nah banyak lagi media sosial lainnya. Bayangin apa gunanya semua media sosial itu kalau konsep hubungan antar pengguna/pertemanannya sama, fokusnya sama, fiturnya sama dsb. 😐

Intinya sih..

“Nggak semua media sosial sama, kalau semua dianggap sama saja, untuk apa pakai semua?”

Categories
#PeopleAroundUs

#PeopleAroundUs: Tukang Nasi Goreng dekat Kampus

Ada salah satu tempat makan favorit saya di dekat kampus saya yang dulu di Gegerkalong (Gerlong), namanya Sedap Malam Mas Tono. Udah lama gak kesana gara-gara sekarang udah pindah kampus (pindah kosan). Nah.. belom lama ini Sedap Malam Mas Tono buka cabang di dekat kampus saya yang baru, di Dayeuhkolot (Dakol)
.adiknya Mas Tono

“Saya adiknya mas Tono, anak ketiga, ini yang masak kakak yang paling tua, diatas mas Tono, mas Tono itu anak kedua.” kata adiknya mas Tono.

Jadi saudara kandungnya mas Tono lah yang sekarang bantu jualan di Dakol. Mas Tono nya sih masih di Gerlong.

Jadi ingat, dulu, di dekat kampus yang lama, tiap mampir ke warungnya, suka ngobrol sama mas Tono sambil nunggu pesanannya siap. Dan pernah suatu malam, waktu itu hujan, sambil nunggu reda, ngobrol-ngobrol, sampe mas Tono nangis ceritain perjalanan hidupnya. hiks :’)

Mas Tono dulu nekat ke Jakarta, awalnya cuma bantu-bantu orang jualan nasi goreng di pinggir jalan, terus dikasih tempat tinggal, itu pun di lantai atas ruko yang suka bocor kalau hujan. Darisana mas Tono belajar gimana caranya bisa buka usaha sendiri (belajar resep masak), sampe akhirnya sekarang udah bisa buka warung dengan dibantu 2 orang pekerja, jualan nasi goreng, soto, cap cay dll di Gerlong.

Tapi sayang, tempat jualan mas Tono di Gerlong sekarang ngga serame yang dulu, gara-gara kampus pindah, mahasiswa ikut pindah ke Dayeuhkolot. Nah, belom lama ini mas Tono nyuruh adiknya untuk buka cabang di dekat kampus baru. Sekarang Sedap Malam di Dakol ini pun udah rame.

“masih ngekost ditempat lama mas? tanya saya.

Sebelumnya pernah diceritain sama adiknya mas Tono ini tentang kosan mereka yang fasilitasnya nggak sebanding sama harga. Bisa dibilang mereka masih belom kerasan. Emang sih di Dakol harga kosan lebih mahal daripada di Gerlong, padahal lingkungannya lebih enak di Gerlong, sejuk, udaranya masih segar, dan kehidupannya nggak ‘sekeras’ Dakol.. hehe.

“masih mas, belom pindah, susah nyari tempat yang pas.”

“iya sih..”

“Ini kan masih dirintis, nanti lah kalau udah buka usaha sendiri, baru cari yang lebih bagus”

“amiin..”

Semoga aja adiknya mas Tono ini bisa ikut sukses kayak mas Tono ya. 🙂

Categories
Boleh tahu?

Golden Rule: Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.

Golden Rule, atau aturan emas, atau etika timbal balik (the ethic of reciprocity) adalah satu aturan yang sepertinya diajarkan dalam (hampir) semua budaya atau agama, meski disampaikan dengan kata yang berbeda-beda.

Misalnya seperti ini:

• Buddha
Jangan perlakukan orang lain dengan cara-cara yang kamu sendiri menganggap itu menyakitkan. – Udana-Varga 5.18

• Chinese (Konfusius)
Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, jangan lakukan itu kepada orang lain.- Confucius, Analects 15.23

• Hindu
Inilah sejumlah tugas: jangan berbuat kepada orang lain apa yang akan menyakitkan jika itu dilakukan padamu. – Mahabharata 5:1517

• Yudaisme (Yahudi)
Apa yang kamu benci, jangan lakukan itu pada saudaramu. Inilah seluruh Torah, selebihnya adalah penjelasan.– Rabi Hillel, Talmud, Shabbath 31a

• Kristen
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.– Matius 7:12

• Islam
Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri. – Hadist

dan banyak lagi, seperti:

• Baha’i Faith Texts
Lay not on any soul a load that you would not wish to be laid upon you, and desire not for anyone the things you would not desire for yourself.

• Jainism
One should treat all creatures in the world as one would like to be treated. – Mahavira, Sutrakritanga

• Sikhism
I am a stranger to no one; and no one is a stranger to me. Indeed, I am a friend to all. – Guru Granth Sahib, pg. 1299

• Taoism
Regard your neighbor’s gain as your own gain and your neighbor’s loss as your own loss. – T’ai Shang Kan Ying P’ien, 213-218

• Unitarianism
We affirm and promote respect for the interdependent web of all existence, of which we are a part. – Unitarian principle

• Zoroastrianism
Do not do unto others whatever is injurious to yourself. – Shayast-na-Shayast 13.29

• Native Spirituality
We are as much alive as we keep the Earth alive. – Chief Dan George
———————————————————
Inti aturan tersebut adalah, perlakukan orang lain, seperti Anda ingin diperlakukan. Sebagian besar pasti setuju, tapi sepertinya, beberapa dari kita lupa prinsip ini.
BOclwTaCYAATk17 (1)
Di beberapa tempat, dimana muslim sebagai minoritas, mereka meminta kebebasan beragama.
BOcwH5cCIAAGKgY Tapi di negeri kita, dimana muslim sebagai mayoritas..

BOcwX1GCIAAk52t
hak minoritas / kebebasan beragama dihancurkan. 🙁
Mungkin karena kita terlalu dikotak-kotakkan oleh A, B, C dan perbedaan lainnya, kita lupa kalau kita sama-sama manusia, akhirnya terpikir kalau yang pantas mendapat perlakuan baik hanya ‘saudara’ seiman kita.
Padahal golden rule berlaku untuk semua manusia, dengan iman ataupun tanpa iman.
Semoga kita sadar lagi, untuk mendapat perlakuan baik, tentu sebisa mungkin harus berbuat banyak hal baik pada semua orang. Tapi jika mendapat perlakuan buruk/negatif, jangan dibalas dengan hal buruk, karena yang bakal terjadi justru keburukan yang lebih panjang.

Be a reflection of what you’d like to see in others! If you want love, give love, If you want honesty, give honesty, if  you want respect, give respect.

and..

A sadist is just a masochist who follows the golden rule. 

Categories
Share

Termakan Asumsi

Apa itu asumsi? Asumsi menurut KBBI adalah dugaan yang diterima sebagai dasar, atau landasan berpikir karena dianggap benar.
Kita sering berasumsi, dan secara tak sadar asumsi ini adalah cerminan dari diri kita karena pengalaman kita lah yang membentuk asumsi kita terhadap orang lain. Bingung?
Jadi gini, tiap kali kita punya asumsi terhadap keadaan orang lain, sebenarnya yang membentuk dugaan/perkiraan itu adalah hasil dari pemikiran kita jika kita dihadapkan pada keadaan yang sama.
Misal, contoh asumsi:

  • “Si dia gak ngebalas sms, mungkin dia udah gak suka lagi”, adalah cerminan diri yang kalo tidak suka (lagi), maka gak balas sms.
  • “Jadi jomblo itu ngenes”, adalah cerminan diri yang ketika menjomblo gak pernah bahagia alias gak pernah dapat kebahagiaan saat jomblo.
  • “Dianya lama balas sms/gak angkat telpon, jangan-jangan selingkuh”, adalah cerminan diri yang bisa lama balas sms karena selingkuh.
  • “Dianya lama balas sms/gak angkat telpon, mungkin lagi sibuk”, adalah cerminan diri yang gara-gara sibuk, suka jadi lama balas sms/angkat telpon.
  • “Anaknya begitu, emaknya pasti ga peduli”, adalah cerminan diri yang manja, menganggap semua orang bertindak dengan menunggu aturan mama.

Contoh lain yang paling banyak adalah asumsi manusia terhadap tuhan.

  • “Dia gak menyembah tuhan, dia bakal dihukum tuhan di neraka”, adalah cerminan diri manusia yang punya sifat gila hormat, maka yang tidak hormat akan dihukum. (Personifikasi tuhan, sama seperti kata Tuhan melihat, jodoh ada di tangan Tuhan, Tuhan duduk, dsb.)

Atau asumsi manusia ketika mencari kehidupan luar bumi, manusia mencari kehidupan di luar bumi dengan mencari keberadaan air, oksigen dan segala pendukung kehidupan makhluk bumi dengan asumsi makhluk di luar bumi juga membutuhkannya untuk hidup. Karena hanya itulah ukuran kita, standar manusia dalam melihat hal lain.
Sama seperti kita melihat orang lain, mengukurnya dengan pengalaman kita.  Ya, begitulah asumsi. Lucunya kita terlalu percaya asumsi sampai-sampai membenci suatu hal hanya karena sesuatu yang belum tentu benar (asumsi).

Tidak seharusnya kita termakan asumsi, terutama yang menimbulkan kebencian. Karena sikap orang lain belum tentu sama seperti sikap kita jika dihadapkan dalam satu keadaan. 🙂