Categories
Opini

Air Zamzam Palsu

Air Zamzam, air yang dianggap suci oleh umat Islam. Air dianggap berkhasiat menyembuhkan beberapa penyakit. Saya ingat saat kecil sering diberi air zamzam yang sudah dibacakan doa-doa. Katanya biar makin sehat (dan pinter). He Hehe

Hari ini heboh di timeline twitter (saya) berita tentang penggerebekan pabrik air zamzam palsu. Waduh gilak! Sepertinya sebagian orang tergiur dengan ‘keuntungan besar’ yang bisa diraup dengan mengatasnamakan agama. Mulai dari jasa titip doa, pengadaan quran dll sampai pemalsuan air zamzam.

Gimana nggak? Pengikut agama di dunia ini sangat banyak, Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak dan orang-orang dengan sikap untuk tidak langsung percaya (skeptis dan kritis) juga jarang di negeri ini. Kita terbiasa malas mempertanyakan sesuatu dan langsung percaya begitu saja. Gak heran, kita gampang ditipu.

Familiar dengan kemasan air zam-zam itu?
Mungkin ada yang pernah dibawakan oleh-oleh air zamzam dengan kemasan diatas? Mereka yang membeli mungkin tidak tau. Yang menjual pun mungkin selama ini tidak tau (atau mungkin tau tapi dirahasiakan?)
Air Zamzam dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, akan menarik kalau orang-orang yang mengkonsumsi air zamzam selama ini (terutama seperti kemasan diatas) ditanyakan bagaimana efek yang dirasakan setelah minum air zamzam. Mungkin ada yang menjawab penyakitnya sembuh, badan terasa lebih fit, anak menjadi lebih pintar dsb. Menarik lagi kalau setelah itu diberitahu kalau ternyata air zamzam yang dikonsumsinya palsu. Tadaa! Efek plasebo bekerja 🙂
Menurut berita, omzet dari pabrik yang sudah berjalan 2 tahun itu sekitar 11 miliar. Bayangkan berapa banyak orang yang tertipu?
Dengan jumlah pemeluk agama yang milyaran, Bagaimana kalau ternyata ada tipuan lain (global) yang lebih besar atas nama agama? Tipuan untuk meningkatkan pendapatan suatu negara dan bangsa melalui progam kunjungan rohani ke negaranya misalnya? Ah ntahlah..
Categories
Opini

Mengapa Ilmu Pengetahuan Alam itu menyebalkan?

Iya, mengapa IPA itu menyebalkan? Sebagian menyebalkan sih. Dulunya. Ini sebenarnya pengalaman saya sendiri yang ketika masa sekolah menengah merasa kurang suka dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti Kimia, Fisika dan kadang-kadang… Biologi. Tapi sebelumnya, saat masih di bangku SD saya sangat suka dengan pelajaran IPA. Saya masih ingat ketika SD, pulang sekolah saya lebih suka berada diluar rumah dan melakukan eksperimen-eksperimen yang selalu hasilnya saya pamerkan ke papa saya. Eksperimen-eksperimen kecil yang ada di buku pelajaran itu lho 😀

Tapi ketika di SMP, ketika saya pertama kali mengenal pelajaran Fisika, Kimia.. rasanya rumus-rumus disana membuat saya gila dan membenci IPA. Ngapain sih segala dipelajari? Pikir saya, saya nanti nggak bakal jadi dokter. Ngga pernah sedikitpun punya cita-cita yang berhubungan kesana.

Begitupun sewaktu SMA, saya hanya suka mata pelajaran Biologi, ya sedikit suka dengan fakta-fakta yang ada di fisika dan kimia, tapi benci ketika harus menghafal semua rumus itu. Harus? Siapa yang mengharuskan saya menghafal itu semua? Baru kepikiran sekarang. Ngga ada yang mengharuskan –_- , kecuali sistem pendidikan di Indonesia mungkin.

Sekarang, baru terasa Science atau Ilmu Pengetahuan Alam itu menakjubkan, saya kembali ke kondisi pikiran anak-anak. Anak-anak gimana? Anak-anak yang banyak ingin tahu. Kenapa tidak dari dulu? Sayangnya kita (setidaknya saya) sebagai anak-anak dulu didoktrin jangan berpikiran macam-macam. Ntah lah doktrin dari siapa, berpikir dengan otak yang ada di tubuh kita sendiri saja dilarang.

Well, melihat kejadian-kejadian dunia gila di sekitar saya ini membuat saya kembali ingin mempelajari pengetahuan alam. Bodoh, saya sekarang ada di jurusan Manajemen, tapi bukannya membaca buku-buku manajemen, saya malah lebih banyak menghabiskan waktu untuk browsing situs-situs science, menonton video pengetahuan alam, video dokumenter kehidupan alam liar dan buku-buku semacamnya.

Kemana aja saya sebelumnya?

Sebelumnya saya bukan seorang yang skeptis! Tidak banyak bertanya dan menerima apa saja yang dikatakan orang dan saya merasa pelajaran-pelarajan sekolah itu semua harus dihafal (dan sebaiknya tidak bermacam-macam) agar saya lulus dengan nilai yang tinggi. Tanpa ada passion atau kecintaan dalam mempelajarinya, IPA itu menyebalkan.

Baru sekarang saya menyadari bahwa science itu ternyata sangat ‘sexy’, dan dengan kesadaran ini saya jadi lebih tertarik mempelajari pengetahuan alam. Mungkin bukan dengan hitung-hitungan, tapi dengan mencari tahu fakta atau realita yang diterima sekarang. (Fakta? Realita? Terlepas dari apakah itu benar atau tidak tapi itulah hasil pencapaian umat manusia, untuk sementara!)

Ilmuwan sebenar-benarnya ilmuwan, menurut saya berangkat dari rasa penasaran dan kecintaan terhadap isi dunia dan misterinya. Menurut saya juga, selain seniman, orang yang benar-benar punya sudut pandang menarik terhadap kehidupan adalah ilmuwan atau scientist.

Menemukan teori baru, rasa tak mudah percaya atau skeptisisme atas teori tersebut, mendorong munculnya ilmu yang semakin maju. Menjadikan kemampuan manusia berbeda dengan spesies hewan lainnya. Mengapa kita bisa membangun gedung? mengapa kita bisa membuat senjata api, senjata biologis? dan teknologi-teknologi lainnya? Itu karena kemampuan manusia dalam collective learning (belajar bersama-sama) dan mengumpulkan pengetahuan itu dari yang dulunya hanya tingkat lokal sampai sekarang mengglobal.

Dorongan emosi dalam rasa keingintahuan akan alam semesta yang besar ini, menjadikan ilmuwan bahu-membahu menemukan keping-keping misteri kehidupan. Dulu, banyak orang percaya petir itu ada karena dewa yang marah. Tapi apa penyebab sebenarnya? Mengapa terjadi kekeringan? Ada orang yang percaya karena tuhan atau dewa kesuburan marah. Mengapa terjadi gempa? Karena tuhan marah, ntahlah sebabnya ada yang berpendapat karena tubuh wanita. dsb..

Tapi Ilmuwan mencari tau apa penyebab kejadian-kejadian yang terjadi di alam semesta ini, seksinya, pengetahuan ini tak mutlak harus dipercaya, secara jujur dan rendah hati, ilmuwan akan menerima siapapun yang bisa membangun alasan rasional dan terukur hingga meruntuhkan teori lama dengan teori barunya. Itulah mengapa saya sebutkan tadi fakta yang kita ketahui sekarang mungkin hanya bersifat sementara karena ilmu terus berkembang.

Balik lagi kenapa kita (atau mungkin saya) merasa pengetahuan alam dulunya menyebalkan? Mungkin juga karena guru kita bukan seorang peneliti atau scientist yang sebenarnya. Mungkin karena mereka tidak menanamkan rasa ingin tau dan skeptis tersebut. Sehingga kebanyakan dari kita tak menemukan motivasi sebenarnya dalam belajar ilmu pengetahuan alam. Oke, motivasi kita mungkin hanya dapat nilai bagus, ada juga agar cita-cita atau profesi impiannya tercapai (yang ujung-ujungnya agar kita punya duit).

Bagi saya, mencari kebenaran dari ilmu pengetahuan alam lebih menggairahkan daripada percaya begitu saja karena malas berpikir. Realitanya yang kita temukan dari ilmu pengetahuan alam mungkin tidak sesuai dan seindah harapan kita. Tapi bukankah realita yang kita temukan itu adalah cara alam membuka misterinya perlahan-lahan?

Science adalah satu-satunya alat yang dimiliki manusia, untuk mengenal dirinya sendiri[1] dan komponen semesta lainnya. Menolaknya bisa jadi sama dengan menolak kemampuan yang manusia miliki.

[1]Kita adalah sekumpulan atom yang mempelajari atom.

Eh ini salah satu video favorit saya, perjalanan kosmik! Perjalanan memahami diri sendiri dan kedudukan kita di semesta ini.

 
(Video ini sangat seksi, salah satu alasannya mungkin karena naratornya Morgan Freeman. 😛
*tekan CC untuk subtitle bahasa Indonesia)
atau ini, yang lebih puitis:

Big-historyOiya, kalau mau belajar ilmu pengetahuan alam lebih menarik daripada yang ada di sekolah (maksudnya yang gak boring gitu :P), nih coba ikut kursus gratis di BigHistoryProject.com

Ada 10 bagian, dari Pengenalan, Bigbang, Bagaimana bintang terbentuk, Bagaimana elemen kimia muncul, Bagaimana bumi terbentuk dan terisi, Bagaimana kehidupan (di Bumi) muncul, Collective Learning, Mengapa Agrikultur penting, Revolusi Modern sampai akhirnya bagian potensi masa depan. 

Bisa dibilang cara mudah mengerti konsep pengetahuan alam, tanpa harus terlalu banyak rumus-rumus. Isinya berupa rangkuman dari segala bidang ilmu tentang manusia dan alam. Buat saya yang gak terlalu suka hitung-hitungan, materinya sangat menarik dan mudah dimengerti karena ada poster, video dan visualisasi lainnya.

Teruslah belajar dan jangan pernah cepat puas

Categories
Boleh tahu? Opini Share

Mengenang 9 tahun tsunami. Siapkah kita jika terjadi lagi?

Hari ini tepat dengan 9 tahun kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan beberapa bagian negara lainnya. Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, timeline twitter saya dipenuhi dengan tweet-tweet mengenang kejadian dahsyat ini.

Iya, gempa dan tsunami saat itu begitu dahsyat, goncangan bumi yang paling kuat yang pernah saya rasakan sampai-sampai saya tak sanggup berdiri saat itu.
Tahun ini, tak seperti tahun sebelumnya, saya tak ingin berlarut dalam kesedihan itu, dan saya rasa sebagian besar rakyat Aceh juga sudah move on dari kejadian ini. Saya sendiri lebih memilih memperingati masa kini dengan isu siapkah kita jika terjadi kejadian serupa?
Iya, banyak yang meninggal saat tsunami 2004 karena ketidaksiapan, kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti saya sendiri saat itu, bingung harus berbuat apa, saya ikut lari mengikuti arus ribuan manusia yang juga berlari ke satu arah, menjauh dari pesisir.
Sementara, saat itu dikabarkan, satu pulau yang juga masuk dalam wilayah provinsi Aceh, pulau Simeulue, yang secara letak geografis lebih dulu terkena gelombang tsunami, jumlah korban jiwanya hanya 7 orang. Itu sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang terkena dampak.
Ternyata, masyarakat Simeulue telah mengenal tsunami dari kearifan lokalnya. Cerita turun-temurun lewat nyanyian rakyat memberitahu warga Simeulue apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa besar.
beginilah liriknya:
Enggel mon sao curito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwi lah da sesewan
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan dan navi da
yang artinya:
Dengarlah sebuah cerita
Pada zaman dahulu
Tenggelam satu desa
Begitulah mereka ceritakan
Diawali oleh gempa
Disusul ombak yang besar sekali
Tenggelam seluruh negeri
Tiba-tiba saja
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari
Tempat kalian yang lebih tinggi
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini betul-betul
Pesan dan nasihatnya
(dikutip dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=275107325946280&story_fbid=277995378990808)
buat yang belum tau, di Aceh ada 13 suku bangsa asli, yaitu suku Aceh, suku Gayo, Aneuk Jamee, suku Singkil, suku Pakpak, suku Alas, suku Kluet, suku Tamiang, suku Devayan, suku Lekon, suku Sigulai, suku Haloban dan suku Nias
Nah, lagu tadi adalah lagu dalam bahasa Devayan, masyarakat/suku yang mendiami pulau Simeulue.
Masyarakat Simeulue telah mengenal gelombang besar atau tsunami itu dengan nama Smong dari kejadian ratusan tahun lalu dan diceritakan lewat lagu tersebut. Namun, ternyata perlu dicatat bahwa tak semua tsunami ditandai dengan air yang surut.

Saat tsunami (yang disebabkan pergerakan lempengan bumi) terjadi, ada gelombang positif dan gelombang negatif. Dalam kejadian tahun 2004, gelombang tsunami yang bergerak ke barat (Sri Lanka, Maladewa..) dari titik lempeng adalah gelombang positif, sedangkan gelombang tsunami yang bergerak ke arah timur (Aceh) adalah gelombang negatif, dimana gelombang negatif ini bergerak tanpa ciri-ciri air laut yang surut dan kekuatannya lebih merusak.

Kebetulan pergerakan lempeng di barat Sumatera mengakibatkan tsunami dengan ciri-ciri demikian, sehingga “warning system” masyarakat Simeulue bekerja dengan baik. Maka bisa jadi ini mitos yang berbahaya (terutama bagi wilayah lain selain barat Sumatera) mengingat pergerakan lempengnya berbeda-beda dan akan menimbulkan gelombang tsunami yang berbeda pula (tidak ada tanda-tanda air surut, tiba-tiba gelombang tsunami menerjang).
Jika ingin penjelasan lebih jelas, sila lihat video berikut ini, Kronologis detik-detik Tsunami 2004:


(lompat ke menit 42:40, gambaran tentang gelombang positif dan negatif)

Hal ini mengingatkan kita bahwa manusia benar-benar rentan terhadap bencana alam, dimanapun dan kapanpun. Terutama jika tsunami terjadi, kita belum punya warning system yang pasti.

Saya tadi posting beberapa tweet tentang ketidaksiapan ini:

#9thnTsunami move on. Seberapa siap siaga kita dengan bencana alam yg mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal kita?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami mungkin pun bukan lingkungan yg biasa kita tempati. Bencana jg mungkin trjadi di tempat kita berlibur. Pikirkan kemungkinannnya
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

#9thntsunami Kalau terjadi bencana a, harus bagaimana? kalau b, pikirkan, harus bertindak seperti apa? Siaga bencana mengurangi korban jiwa.
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Terus kebetulan setelahnya juga ada tweet dari mbah @sudjiwotedjo tentang penyebutan bencana yang terlalu sadis bagi alam. Hm, ada benernya juga, apa yang kita sebut bencana alam ini kan cara alam menyeimbangkan diri, seperti kita ketahui Bumi dan alam ini terus berkembang dan wajahnya akan berubah, baik karena ‘bantuan’ manusia (longsor)  maupun bukan (seperti gempa, tsunami).

@sudjiwotedjo iya tergantung perspektifnya, mbah. dalam bencana alam ada yg disebut kerugian dan korban jiwa. dalam sabda alam, disebut apa?
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

@zakwannur Ya mari kita pikirkan bersama, termasuk bersama pusat bahasa. Gmn cara kita menamai “kerugian” dan “korban jiwa” dlm Sabda Alam
— Bpk of Bpk Bangsa (@sudjiwotedjo) December 26, 2013

@sudjiwotedjo jadi, misalnya: siaga dan penanggulangan bencana itu tetap ada buat perspektif yg gak mau mengalami kerugian..
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) December 26, 2013

Ya begitulah menurut saya, kita sebut bencana alam jika menurut kita itu merugikan dan harus dihindari (dengan siaga dan mitigasi bencana), bisa kita sebut ‘sabda alam’ seperti mbah @sudjiwotedjo katakan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kedua-duanya bisa berdampingan.

Semoga bermanfaat.

Categories
Share

Siapa Saja Ateis di Antara Kita?

IA

Awal bulan Januari 2012, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka.  Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara.  Tapi kasus ini membuat saya bertanya “Kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?”

Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”.  Tuhan itu satu.  Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?

Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan menganggap dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.

Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.

Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5).  Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.

Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka.  Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa  ”Salam Maria“.

Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.

Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda.  Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis

Beberapa abad  yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus.  Dan mereka dianggap “ateis”.

Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat

Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”

___________________________________________________________

oleh Soe Tjen Marching, di facebook notenya.

Tulisan Soe Tjen Marching ini menarik bagi saya, ateis secara umum diartikan tidak percaya pada tuhan. Kalau begitu, bukankah setiap pemeluk agama saat adalah ateis bagi agama lainnya? Karena tidak percaya pada tuhan yang ada di agama lain.
Seperti kata Stephen Roberts itu:

“I contend that we are both atheists. I just believe in one fewer god than you do. When you understand why you dismiss all the other possible gods, you will understand why I dismiss yours.”

Categories
#ObrolanTaksi

#ObrolanTaksi: “Emang situ doang yang mau duit?”

Hujan-hujan nyari taksi di Bandung itu susahnya minta ampun. Yang lagi nggak hujan aja taksi dijalan jarang ada yang kosong, emang harus direservasi dulu. Tapi reservasi taksi waktu hujan emang butuh perjuangan, dari sekian banyak perusahaan taksi, semuanya sibuk, nggak ada yang angkat telpon. Kalo pun di angkat, ujung-ujungnya “Maaf pak, saat ini kami full order, kami tidak dapat memastikan ada taksi kosong dalam beberapa jam ke depan.”
Akhirnya harus nelpon berulang-ulang dan nanya perusahaan yang beda-beda. Pfft

Hari ini, saya mau berangkat ke Stasiun KA Bandung, dari sekian banyak taksi yang ditelpon, akhirnya ada dua perusahaan yang bilang “mohon ditunggu pak selama 30 menit, akan konfirmasikan lagi.”

Beberapa menit menunggu, masuk sms dari satu perusahaan dan bilang kalo taksinya tetap belum ada “konfirmasi apakah tetap ingin menunggu atau membatalkan?” | “Batal.” *hopeless* Tapi untungnya setelah sms terkirim, ada sopir taksi yang nelpon “Pak, taksinya sudah didepan.” Akhirnyaaaa 😀

Sopir taksi kali ini namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad ramah banget, ya emang rata-rata sopir taksi dari perusahaan ini dikenal asik asik dan ramah ramah sih..

Saya mulai curhat susahnya nyari taksi kalau lagi hujan.

“Wah iya, di pool tadi ngantri pesanannya. Ini juga dari STT (Telkom University maksudnya) ada 3 yang nunggu, saya sepanjang jalan tadi ditanyain kosong nggak, saya bilang aja udah ada yang pesan.”
“Kenapa ya pak nggak ditambah aja mobilnya? Masa tiap hujan penuh gini terus” Si bapak jawab “Oh, nggak boleh sama taksi lain!”
Saya kaget, atas dasar apa taksi lain ngelarang-larang? Ternyata kalo menurut si bapak, karena sirik taksi ini (sebut merek) dan rata-rata orang lebih tertarik untuk menggunakan jasanya, apalagi terhitung pendatang baru di kota Bandung. Perusahaan ini punya armada sekitar 221 taksi, itu terhitung sedikit, ada perusahaan lokal yang juga ternama itu punya sekitar 700an mobil. Belum lagi perusahaan-perusahaan lainnya.
Heran, udah sebanyak itu juga masih kurang ya.
Obrolan berganti-ganti, gak cuma perusahaan taksi legal aja, taksi-taksi gelap pun sensi sama perusahaan taksi ternama ini. Saya tanya, “Kalo di pusat-pusat perbelanjaan atau stasiun gitu pak, mangkal bayar gak sih?” Bayar, bayar ke preman (penduduk yg nganggur), Itupun dinyinyirin, kata si bapak.
“Kenapa gak mangkal di parkiran aja pak? Bayarnya mahal?” Ternyata nggak juga, Taksi cukup bayar sekali parkir 2000. Tapi juga dibatasin, dinyinyirin sama sopir-sopir lain.. “Heu! emang situ doang yang mau duit? kita juga butuh buat anak” sambil si bapak niruin sindiran sopir lain. “itu kayak gitu pas nyindir mukanya kemana, teriaknya kemana..” kata si bapak. Hahah. Tapi semenjak pak menteri waktu itu ke stasiun, pak menterinya kaget kok di stasiun gak ada taksi resmi. Akhirnya mulai ada deh pangkalannya.. itupun dibatasin untuk 5 mobil.

Selain itu, seperti biasa saya juga bertanya sudah berapa lama si bapak jadi supir. Pak Ahmad udah jadi supir selama 8 tahun, tapi menurutnya nggak begitu ada senioritas di perusahaannya. Emang masing-masing ukur dengan kinerja aja, jadi ada supir batangan, keliling, sama cadangan. Nah, biasanya senior jadi sopir keliling. Sopir keliling itu megang dua mobil secara bergantian, kalo sopir batangan itu biasanya nyopir satu mobil tetap. Sedangkam sopir cadangan ini sopir yang kinerjanya menurun, kalau dalam waktu tertentu dia nggak bisa menuhin target, statusnya jadi sopir cadangan. Kalo kata si bapak, biasanya anak muda, belom ada strategi nyopir jadi terlalu semangat di jalan keliling-keliling tapi nggak nemuin penumpang, malah ngabisin bensin.

Ngomong-ngomong nyopir di perusahaan taksi ini gajinya sekitar 3 juta, lumayan lah rata-rata segitu juga. “Tapi kalo kata temen-temen yang pindah, lebih enak disini.” Loh terus kenapa pindah? Bukan kemauan sendiri, tapi kebijakan perusahaan. Jadi di perusahaan ada poin kecelakan lalu lintas dan poin pelanggaran pelayanan. Masing-masing sopir punya jatah poin kecelakaan lalu lintas sebanyak 5 poin, dan poin pelayanan sebanyak 20 poin untuk 6 bulan. Kalau dalam 6 bulan sopir menuhin poin itu, dia dikeluarin. Boleh jadi sopir lagi dalam waktu 3 bulan. Tapi nggak kalo pelanggarannya adalah poin pelayanan.

Well, pelayanan emang segalanya kok. Tapi kita jadi konsumen jangan semena-mena juga lah..
Saya bersyukur, ntah karena kuliah di bisnis jadi juga agak ngerti gimana seharusnya perusahaan bertindak dan juga perilaku konsumen ke perusahaan. Pernah nggak sih memuji jasa/produk yang memuaskan? atau apa kita malah lebih banyak ngeluh kejelekan dari pelayanan/produk/jasa? Kasian perusahaan, kadang namanya jelek cuma gara-gara kesalah pahaman atau kesalahan situasional yang diumbar-umbar konsumen. Menurut saya kita jangan terlalu manja lah, sekarang bukan jamannya lagi pembeli adalah raja.

Lanjut si bapak jua cerita, penumpang yang semena-mena itu banyak.. “Kok jalannya kiri melulu pak? kok jalannya kanan melulu pak? nyalip dong? ngebut dong!” Terus kalau dijelasin akibatnya sopir harus mengganti kerugian kalau mobil lecet/kecelakaan jadi sopir nggak bisa menuhin keinginan penumpang, penumpangnya marah minta diturunin saja. Waktu beneran turun, malah lapor ke pengaduan kalo sopir mobil nomor blablabla nggak memenuhi permintaan dan saya diturunin di jalan.

Hmm.. Ya kita harusnya ngeliat sesuatu bukan dari sudut pandang kita aja sih, kalau bisa coba juga mempelajari sudut pandang orang lain. Dan jangan merendahkan orang lain karena uang, liat deh berapa banyak sih orang yang semena-mena ke.. katakanlah buruh, pembantu, sopir dsb? Tanpa mereka, mungkin kita gak produktif.

Coba deh sesekali dekati orang-orang yang membantu kita, walaupun kita membayar, bukan berarti kita diatas, mereka dibawah dan harus tunduk. Kita saling membutuhkan dan bukan raja satu sama lain. Orang yang membantu kita itu gak bodoh, gak mau kan keadaan berbalik dan kemudian kita malah kesulitan dan celaka? Hehe

Udah ah, percakapan berakhir ketika akhirnya taksi sampai ke stasiun, si bapak mangkal deh ke pangkalan yang diceritain tadi, karena kebetulan taksi dipangkalan belum 5 taksi.
Makasih pak Ahmad!

-ditulis dalam perjalanan ke Yogya..