Categories
Share

Save The Planet! Save the A, Save the B, Save the C, blablabla

“We’re so self-important. Everybody’s going to save something now. “Save the trees, save the bees, save the whales, save those snails.” And the greatest arrogance of all: save the planet. Save the planet, we don’t even know how to take care of ourselves yet. I’m tired of this shit. I’m tired of f-ing Earth Day. I’m tired of these self-righteous environmentalists, these white, bourgeois liberals who think the only thing wrong with this country is that there aren’t enough bicycle paths. People trying to make the world safe for Volvos. Besides, environmentalists don’t give a shit about the planet. Not in the abstract they don’t. You know what they’re interested in? A clean place to live. Their own habitat. They’re worried that some day in the future they might be personally inconvenienced. Narrow, unenlightened self-interest doesn’t impress me.


The planet has been through a lot worse than us. Been through earthquakes, volcanoes, plate tectonics, continental drift, solar flares, sun spots, magnetic storms, the magnetic reversal of the poles … hundreds of thousands of years of bombardment by comets and asteroids and meteors, worldwide floods, tidal waves, worldwide fires, erosion, cosmic rays, recurring ice ages … And we think some plastic bags and some aluminum cans are going to make a difference? The planet isn’t going anywhere. WE are!

We’re going away. Pack your shit, folks. We’re going away. And we won’t leave much of a trace, either. Maybe a little Styrofoam … The planet’ll be here and we’ll be long gone. Just another failed mutation. Just another closed-end biological mistake. An evolutionary cul-de-sac. The planet’ll shake us off like a bad case of fleas.

The planet will be here for a long, long, LONG time after we’re gone, and it will heal itself, it will cleanse itself, ’cause that’s what it does. It’s a self-correcting system. The air and the water will recover, the earth will be renewed. And if it’s true that plastic is not degradable, well, the planet will simply incorporate plastic into a new paradigm: the earth plus plastic. The earth doesn’t share our prejudice toward plastic. Plastic came out of the earth. The earth probably sees plastic as just another one of its children. Could be the only reason the earth allowed us to be spawned from it in the first place. It wanted plastic for itself. Didn’t know how to make it. Needed us. Could be the answer to our age-old egocentric philosophical question, “Why are we here?” 

Plastic… asshole.”

-George Carlin
Dan spesies penerus kita yang kembali ke Bumi mungkin nanti akan berkata, “Selamatkan plastik! Selamatkan Bumi! Jangan biarkan pohon hijau-organik-menyebalkan itu mencemari planet kita!”
Categories
Boleh tahu? Opini

Teori Evolusi: Manusia bukan berasal dari monyet

Kita sering mendengar teori evolusi Darwin, tapi tampaknya banyak orang yang salah mengartikan ini. Orang sering mengatakan nenek moyang manusia adalah monyet, padahal bukan. Setidaknya tidak sesingkat itu, dan bukan itu yang dimaksud Darwin. Jika ditarik jauh, nenek moyang manusia adalah sama dengan nenek moyang makhluk-makhluk lainnya. Kalaupun ditarik ke rentang waktu lebih dekat, kita pun tak dapat mengatakan bahwa nenek moyang manusia adalah monyet ataupun kera. Tapi lebih tepatnya, monyet dan manusia punya nenek moyang yang sama. Kita, babon, gorila, orangutan, dan simpanse ada dalam satu Famili, yaitu Hominidae dan dalam satu Ordo dengan monyet yaitu sama-sama diklasifikasikan ke dalam bangsa primata.
Pengklasifikasian ini berhubungan dengan teori evolusi, teori yang sampai saat ini masih dipegang kalangan ilmuwan, sederajat dengan teori lainnya (misal) seperti teori Bumi mengelilingi Matahari. Artinya evolusi dipercaya sebagai fakta, (layaknya fakta bahwa saat ini Bumi mengelilingi Matahari) dan turut membantu perkembangan ilmu sampai saat ini karena dianggap masih relevan (kecuali hal-hal seperti burung bersusu atau mamalia berbulu burung ditemukan, maka teori evolusi runtuh). Jika kita menonton video dokumenter perilaku hewan, akan disebutkan beberapa sifat-sifat hewan maupun bentuk fisik hewan yang merupakan hasil dari evolusinya dulu, berlaku juga untuk sifat-sifat dan fisik manusia (karena manusia termasuk dalam Animalia) sehingga evolusi turut menjelaskan pertanyaan seperti mengapa manusia memiliki rasa takut, mengapa manusia merinding, dsb. Nah, teori evolusi juga mempengaruhi pengklasifikasian ilmiah, karena dalam pengklasifikasian ilmiah, makhluk hidup (baik yang masih ada maupun yang telah punah) dibagi berdasarkan kesamaan fisik yang dimiliki.
keragaman hayati yang berasal dari nenek moyang yang sama.
The Great Tree of Life

Jika tadinya kehidupan berawal dari nenek moyang yang sama, kenapa sekarang jadi begitu beragam? Keragaman ini ada karena insting makhluk hidup untuk terus hidup (survive), melalui berbagai permasalahan hidup makhluk-makhluk itu dijamannya masing-masing, makhluk hidup yang awalnya sel sangat sederhana harus berubah secara (sangat) perlahan-lahan dalam waktu yang super-duper lama demi menyesuaikan dengan alam. Makhluk hidup yang tak dapat beradaptasi akan punah, inilah yang disebut seleksi alam.

Lalu, dari keragaman inilah, dapat dilihat kesamaan fisik yang memberi jejak bahwa makhluk hidup yang kita kenal sekarang ternyata dari nenek moyang yang sama.
kesamaan fisik famili Hominidae, bangsa Primata
gambar (singkat) Evolusi

Sepertinya gambar diatas cukup terkenal bagi yang pernah mendengar teori Evolusi. Dalam gambar diatas adalah versi singkat dari evolusi manusia yang sering disalah artikan (dengan singkat pula) bahwa manusia berasal dari monyet. Padahal bukan, makhluk yang ada di tahap awal itu bukan monyet, tapi gambaran nenek moyang bangsa Primata. Jadi ini sekaligus menjawab pertanyaan, “Jika makhluk hidup berevolusi, mengapa monyet masih ada sampai sekarang?” Jawabannya pertama: karena makhluk di tahap awal pada gambar diatas bukan monyet, dan monyet yang ada sekarang pun adalah evolusi dari makhluk yang sama, barangkali dengan perubahan yang tak banyak. dan jawaban lainnya adalah karena Teori Evolusi bukan berarti semua makhluk hidup harus berubah, ada makhluk yang berubah sangat jauh dari jamannya, ada juga yang tidak berubah jauh. Intinya, ada makhluk yang karena pengaruh lingkungan geografisnya ingin bertahan hidup sehingga mendorong otaknya dan fisiknya berubah. Ada pula yang tak perlu perubahan cukup signifikan karena lingkungannya cukup mendukungnya untuk bertahan hidup.

Jadi dalam evolusi, tak ada yang benar-benar disebut manusia pertama, karena perubahan yang terjadi sangat perlahan sehingga tak ada patokan siapa manusia (Homo sapiens) pertama. Namun dari bukti fosil yang ada, diperkirakan primata yang berevolusi sampai akhirnya menjadi Homo sapiens awalnya berada di benua Afrika. Kemudian karena insting untuk bertahan hidup, sebagian pergi bermigrasi untuk mencari makanan di dataran (benua-benua) lain. Karena perpindahan inilah akhirnya manusia yang ada sekarang terdiri dari berbagai etnis dan ras. Lingkungan geografis menuntut fisik manusia modern ini untuk beradaptasi sehingga menciptakan warna kulit yang berbeda-beda.

Peta perpindahan manusia dari Afrika sampai menempati Amerika. Tercatat awalnya 60.000 tahun yang lalu.

nenek moyang Homo sapiens yang berpindah membentuk etnis-etnis baru.

Terbukti saat ini orang-orang yang menempati benua Asia mempunyai ciri yang berbeda dengan orang-orang yang menempati benua Afrika. Kita yang ada di Indonesia pun jika ditarik garis yang sangat jauh, akan berawal dari Afrika (sejauh yang tercatat saat ini). Perbedaan ciri ini adalah bukti bahwa manusia (Homo sapiens) sendiri telah berevolusi dalam puluhan ribu tahun terakhir, namun bukan berarti kita (orang Asia) adalah spesies yang berbeda dengan orang Afrika.

Evolusi terjadi dengan sangat perlahan, perubahannya tidak terjadi pada satu individu dalam umur hidupnya, namun terjadi ketika individu tersebut berkembang biak, perubahan tersebut ditransfer lewat kode genetiknya yang kemudian oleh keturunannya akan diturunkan lagi ke keturunan selanjutnya. dan masing-masing keturunan ini menghadapi permasalahan berbeda-beda dalam geografis yang berbeda-beda pula yang pada akhirnya setelah melewati beberapa keturunan, akan terlihat perbedaan mencolok antara si individu awal tadi dengan cucu-cicit-cicitnya yang jauh itu.

Karena perubahan yang sangat perlahan itu, bisa dibilang kita sekarang pun merupakan makhluk yang sedang berevolusi, tentunya dengan permasalahan di jaman kita sendiri. Apa artinya diri kita akan berubah? Bukan, bukan kita, tapi keturunan-keturunan kita. Entah di bagian mana tubuh ‘manusia’ nanti akan berubah, tapi yang jelas manusia (sebagai makhluk hidup) terus berusaha bertahan hidup, seperti saat ini, umat manusia mulai mencari tempat lain selain Bumi yang dapat ditinggali. Sebagai antisipasi karena ketika ancamannya itu datang, pilihannya dua, kita mati atau berpikir bagaimana bertahan hidup. Mungkin dorongan untuk menemui tempat tinggal baru akan membuat perubahan membentuk manusia masa depan dengan otak yang semakin cerdas. Sementara beberapa manusia terdorong semakin cerdas, di pihak lain, mungkin pula akan ada manusia masa depan dengan otak yang menciut kembali menjadi kecil karena kebiasaan malas berpikir dan merasa hidup aman-aman saja (karena merasa tak perlu memikirkan bagaimana menanggulangi bencana, ancaman dsb).

Menyadari bahwa dalam satu spesies saja dalam puluhan ribu tahun (dalam contoh diatas: spesies manusia modern) bisa terjadi perubahan karena perpindahan tempat tinggal, bukan tak mungkin ‘makhluk yang jauh berbeda’ bisa terbentuk dalam ratusan ribu tahun.

Oiya, coba tonton playlist ini (video 3 part):  untuk gambaran visual bagaimana manusia berevolusi dari makhluk paling sederhana sampai akhirnya menjadi makhluk hidup yang tak berbadan besar namun menguasai laut, darat dan udara.

Darimana dan dari apa terbentuknya nenek moyang makhluk hidup di Bumi ini? tonton aja di video di atas 😀

Semoga meluruskan kesalahpahaman selama ini yang beranggapan teori evolusi mengatakan manusia berasal dari monyet. Sekali lagi, tidak, manusia bukan berasal dari monyet, tetapi manusia dan monyet berasal dari nenek moyang yang sama.

Categories
#PeopleAroundUs

#PeopleAroundUs: Manusia penghisap kebahagiaan

Manusia penghisap kebahagiaan itu gak punya ciri-ciri fisik yang selalu sama, wujudnya bisa bermacam-macam layaknya manusia biasa. Ia bisa cantik, ganteng, menawan. Tapi yang jelas keberadaan mereka menghisap kebahagiaan orang di sekitarnya, bisa sebagian orang merasakannya, bisa juga dirasakan oleh semua yang ada di sekitarnya.

Kebahagiaan yang terhisap itu pun mulai dirasakan sejak dia berada di dekat kita, juga bisa pelan-pelan sampai tiba-tiba kita menyadari kebahagiaan kita hilang. Wajah kita pucat, bibir sulit untuk tersenyum, dan jika sangat berat kadang disertai dengan rasa pusing, jantung berdebar dan mual-mual.

Manusia penghisap kebahagiaan itu memiliki perilaku yang sama, perilaku ini kadang tak disadari oleh manusia itu sendiri sehingga kita pun (termasuk saya sebagai manusia) bisa tiba-tiba menjadi manusia penghisap kebahagiaan orang di sekitar tanpa disengaja. Tentu saja orang-orang yang kebahagiaannya terhisaplah yang tau apa perilaku itu.

Ilustrasi manusia penghisap kebahagiaan
image source: legaljuice.com

Manusia penghisap kebahagiaan ini bisa ada dimana-mana, ia bisa saja sebagai seorang guru, dosen, boss, karyawan, teman, pasangan, saudara dan bahkan orang tak dikenal sekalipun. Sebagai dosen misalnya, sejak dia memasuki ruangan kelas, mahasiswa sekelas bisa merasakan ruangan kelas yang mendadak kelam.

Seorang pasangan pun bisa menjadi penghisap kebahagiaan ini, misalnya ketika ia baru saja bertemu orang lain (bisa jadi seorang manusia penghisap kebahagiaan), lalu pulang ke rumah dengan kemuraman. Kemudian ia ikut membuat orang lain muram dengan perilakunya yang kasar dan emosi yang tak terkendali. Orang-orang tak bersalah disekitarnya seringkali ikut merasakan energi negatif tersebut, menjadi pusing dan segala kenangan bahagia pun hilang.

Yak, kadang manusia penghisap kebahagiaan ini adalah hasil dari manusia penghisap kebahagiaan lainnya, bukan tak mungkin dosen penghisap kebahagiaan itu adalah manusia penghisap kebahagiaan yang lahir akibat manusia penghisap kebahagiaan yang lain, bermasalah dengan pasangan/orang dirumahnya misalnya, lalu dia datang ke kita dengan membawa kemuraman dan melampiaskannya kepada kita sampai kebahagiaan kita pun hilang.

Kadangpula manusia penghisap kebahagiaan ini lahir akibat pikirannya sendiri, bukan dari hisapan manusia lain. Manusia penghisap kebahagiaan yang lahir dari pikirannya ini adalah manusia yang tak mampu mengontrol pikirannya sendiri. Memori/kenangan buruk, ketakutan akan label dari orang lain, pikiran negatif yang berlebih, overthinking, mengakibatkan dirinya menjadi manusia penghisap kebahagiaan orang lain.

Segala jenis penghisap kebahagiaan ini bisa diminimalisir atau bahkan ditangkal. Dengan memancarkan kebahagiaan yang kuat, cahaya kebahagiaan ini tak akan mampu dihisap oleh manusia-manusia penghisap tersebut. Mereka bisa saja terus berusaha menghisap, tapi setelah mereka pergi/menjauh, kita bisa langsung memancarkan cahaya kebahagiaan sehingga suasana menjadi lebih menyenangkan dan jika cahaya yang kita pancarkan tersebut cukup kuat, orang-orang disekitar kita pun ikut merasakan pulihnya diri mereka setelah kebahagiaannya ikut terhisap oleh manusia penghisap kebahagiaan tadi. 🙂

Categories
Opini Tips dan Trik

Tips agar liburan jadi lebih menyenangkan

Liburan adalah pilihan ‘investasi’ yang sangat menyenangkan. Tenaga, waktu, duit habis tapi bukan habis secara sia-sia, ada hasilnya yang bisa kita nikmati seumur hidup. Eh, kecuali kalo berliburnya nggak menyenangkan sih.
Iya, bukan menjadi lebih santai, beberapa orang malah menjadi stres gara-gara tidak menikmati liburannya.
Lalu bagaimana caranya agar liburan tersebut jadi (lebih) menyenangkan? Ini dia versi saya:

  • Pilih teman yang dikenal dengan baik
Ya, jika tidak ingin sendirian, pilihlah teman berlibur yang kita kenal dengan baik. Kenapa? Karena pasti gak mau kan malah bete dengan teman perjalanan gara-gara ngeliat tingkah aslinya yang ternyata gak enak banget (mungkin lelet, kurang sejalan waktu milih tempat makan/kendaraan dsb)?
Eh tapi kayaknya jarang deh traveling sendirian yang bener-bener sendirian, seenggaknya bisa dong dapat kenalan asik di tempat tujuan. 🙂 Coba ngobrol dengan orang-orang lokal, berbicaralah dengan traveler atau pengunjung lainnya.

  • Turunkan ekspektasi tinggi
Seringkali orang memilih lokasi liburan atau bepergian ke suatu tempat atas rekomendasi atau berdasarkan pengalaman orang lain. Tak jarang orang-orang yang menceritakan pengalaman itu dengan menggebu-gebu sampai rasanya kita pun ingin segera mengunjungi tempat itu. Beberapa orang juga memilih tempat tujuan berlibur setelah melihat-lihat video/foto hasil jepretan orang lain.
Nah, bahayanya pengalaman orang lain ini seringkali membuat kita berekpektasi (berharap) terlalu tinggi. Misal, ingin melihat pemandangan seperti di foto/video tersebut, tapi kenyataannya ketika sampai di tempat tujuan tak sebagus itu karena ternyata foto/video tersebut telah direkayasa atau bahkan lebih parah lagi: foto palsu.

@iloveaceh @dikotaku admin, itu sepertinya bukan foto di pulau Weh.. tapi pulau Ibiza. pic.twitter.com/fNZDvAKyH7
— Zakwan Oebit  (@zakwannur) January 3, 2014

Ekspektasi yang tinggi ini bisa-bisa membuat kita jadi bete karena harapan kita yang tak tercapai. Hasilnya pun malah nggak menikmati liburan dan ngomel-ngomel atau bikin bete orang lain.

  • Ketahui keadaan tempat berlibur
Cari tau bagaimana keadaan tempat berlibur sebelum kesana, apakah ada listrik? ada air segar (untuk mandi?) Apakah cuaca mendukung untuk beraktivitas disana? Jangan sampai ketika sampai disana kita malah menyesal karena tidak tau keadaan sebenarnya.
  • Rencanakan jadwal
Ingin bepergian berapa hari? berapa lama? Kalau jadwalnya sudah jelas, baju dan perlengkapan liburan pun bisa disesuaikan. Nggak perlu bawa barang-barang yang gak perlu dan hasilnya barang bawaan pun ringan. 🙂 
  • Lupakan rutinitas sejenak
Ketika sampai pada tempat tujuan, fokus pada tempat tersebut dan orang-orangnya. Berlibur bersama keluarga? Curahkan segala perhatian pada keluarga. Berlibur dengan pasangan? Habiskan momen-momen itu dengan pasangan. Rutinitas biasanya di socmed melulu? Kurangi, atau mungkin lupakan sejenak. (Tapi, good luck deh kayaknya melupakan itu bakal susah :P)
Intinya, biarkan mata kita melihat lebih banyak, biarkan indera kita yang lainnya merasakan suasana tempat-tempat liburan itu.

  • Ketahui apa tujuan liburan
Untuk apa berlibur? Pastinya untuk menyenangkan diri sendiri, namun cara tiap orang berbeda-beda. Nah, pastikan tujuan berlibur tersebut untuk kesenangan dan memperkaya pengalaman pribadi. Bukan untuk bikin iri orang lain atau membuat orang lain terkesan dengan liburan kita.
Ketika fokus kita adalah untuk membuat orang lain terkesan, maka kemungkinan kita akan berusaha mati-matian demi orang lain, bukan demi kebahagiaan diri kita sendiri. Akibatnya malah ketika kita tak berhasil memenuhi ego tersebut, kita tak menikmati liburan dan ujung-ujungnya bikin bete orang lain lagi.

Hmm, itu aja sih tips-tipsnya, apa lagi ya? 😀
Semoga liburan selanjutnya bisa makin fun yak!

Categories
Opini

Mengenakan hijab belum tentu muslimah

Apa stereotip yang terlintas dipikiran seseorang kalau melihat wanita dengan penutup kepala atau hijab? “Seorang muslimah yang baik”? atau malah “Orang sok alim”?

Apapun itu, menurut saya hijab bukan simbol yang hanya milik agama Islam ataupun hanya boleh dipakai orang alim. Jadi rasanya gak tepat kalau buru-buru menyimpulkan orang-orang berhijab tersebut berarti adalah seorang muslim. Karena ternyata gak cuma orang Islam lho yang menggunakan penutup kepala.
Jauh sebelum Islam, banyak kebudayaan-kebudayaan atau agama lain yang orang-orangnya lebih dulu menggunakan hijab.
Misal:

(Yahudi Ortodoks)
(Katolik Roma)
(Sabian)
(Hindu)
(Druze)
(Amish)
(Zoroastrian)
dan masih banyak lagi contoh kebudayan atau agama lain yang wanitanya menggunakan penutup kepala.

Nah, motivasi wanita menggunakan penutup kepala itu pun bermacam-macam, namun orang Indonesia sepertinya langsung menebak orang yang menggunakan penutup kepala berarti orang Islam (karena mayoritas mungkin), dan pasti beranggapan orang memakai hijab itu alasannya karena dia alim dan menuruti perintah agamanya (?)

Setidaknya begitu anggapan saya dulu, ketika sebelumnya saya (hanya) menggunakan kacamata Islam, saya suka bertanya-tanya (dalam hati) kenapa ada orang yang berhijab tapi kadang dilepas kadang dipake, dan kadang juga perilakunya berlawanan dengan aturan agamanya. Singkatnya pemikiran saya saat itu begini:
“Kalau perintah berhijab dilaksanakan, kenapa orang itu tidak mengikuti aturan lainnya?”
Misal berhijab tapi kenapa suka gosip? berhijab tapi kenapa pacaran? dsb. (Walaupun itu tak masalah bagi saya)

Tapi ketika saya mencoba melepas kacamata saya dan melihat dari sudut pandang lain, saya temukan alasan-alasan lain seseorang menggunakan kain penutup tsb. Seperti misalnya:

  1. Untuk menutupi penyakit,
  2. Gaya rambut sedang jelek,
  3. Ukuran fisik/dada,
  4. Agar mendapat jodoh,
  5. Kelihatan lebih cantik dengan penutup kepala (fashion),
  6. Sebagai asesoris/mengikuti mode,
  7. Berpura-pura supaya dianggap alim (karena biasanya orang berhijab di-judge lebih terpercaya),
  8. Alasan ekonomi (Misal memakai hijab agar dagangan busananya laku atau misal tuntutan akting peran muslimah di film dsb)
  9. Terpaksa karena lingkungan (aturan wilayah tempat tinggal, paksaan orang tua/pasangan, label lingkungan dsb).
Alasan-alasan seperti diatas tadi betul-betul ada. Tapi karena kebanyakan orang menganggap semua orang berhijab dengan alasan yang sama (alasan mengikuti aturan agama), orang-orang yang beranggapan seperti itu akan kaget ketika melihat orang berhijab tadi melakukan tindakan yang tak sesuai agamanya, orang-orang tersebut protes (seperti pengalaman saya sendiri sebelumnya tadi). Padahal belum tentu kan seorang berhijab adalah seorang muslim.
Kalopun seorang muslim, belum tentu mempercayai aturan yang sama dengan yang memprotes. Maksud saya begini; tafsiran orang berbeda-beda, bisa jadi Islamnya orang yg diprotes berbeda dengan aturan Islam yang diyakini orang yang memprotes. Nah.

Saya sendiri berpendapat, berhijab gak berhijab itu hak seseorang, saya menyadari alasan-alasan lain seperti tersebut diatas. Memakluminya dan gak protes-protes lagi kalau melihat orang berhijab tapi bertentangan dengan Islam. Suka-suka orang yang berhijab toh. 🙂

Nah, ngomong-ngomong soal alasan-alasan diatas, yang disayangkan mungkin orang-orang berhijab dengan terpaksa. Saya tau ada beberapa wanita yang menggunakan hijab karena terpaksa dengan aturan di wilayahnya (misal: di Aceh). Saya juga baru tau ternyata ada orang berjilbab sejak muda namun beranjak dewasa dirinya menjadi seorang agnostik atau ateis dan tak berani membuka penutup kepala itu karena takut dengan penilaian orang lain. Betapa capeknya hidup dalam kepura-puraan itu.
Dari situ saya belajar, sepertinya jangan menilai/judge orang dari tampilan luarnya. Memakai jilbab (penutup kepala) itu ternyata belum tentu muslim. Jadi jangan kaget kalo di luar negeri, ketemu orang berhijab tapi ternyata seorang Sabian, Zoroastrian atau malah ateis. 😀
Ngomong-ngomong soal berhijab, kalo seorang muslim memilih berjilbab dengan alasan karena aturan agama, saya sangat setuju dengan cara berjilbab muslim seperti ini:

(Kerudung menutupi rambut, dada, hingga pinggang, dan tidak menunjukan lekuk tubuh. Hanya tangan dan wajah yang tidak boleh tertutup.)
Tapi bukan berarti saya setuju, kalo seseorang mengenakan hijab selain seperti diatas lantas di’kafir’kan. Bukan berarti saya setuju orang dilarang-larang memakai hijab dengan gaya lain selain gaya seperti foto diatas, ada yang bilang selain gaya diatas itu bakal menyamai suatu kaum (misal Kristen, Yahudi dll). Mm, nggak juga, karena toh justru mereka lebih dulu ada dan gaya diatas pun lebih dulu ada di kaum lain.

Orang berhijab belum tentu muslimah, muslimah berhijab belum tentu orang baik. Muslimah yang baik pun (mungkin) belum tentu berhijab, karena baik buruknya seorang muslimah sepertinya tak layak kita yang menilai.

Iya, seorang muslim yang baik dengan standar penilaian saya biasanya dianggap bukan muslim yang baik oleh ‘muslim lainnya’. Makanya saya bilang tak layak untuk kita menilai karena bakal selalu ada yang bertentangan dengan penilaian kita.

Udah ah, maha tidak sempurna saya dengan segala ocehan saya. Bye 🙂