Categories
Opini

Mengapa kita candu pada hal yang merusak?

Secara natural, manusia memiliki insting bertahan hidup. Apapun yang dilakukan manusia selama hidupnya, seperti aktivitas ekonomi, sosial, politik, religi, kriminal dan semuanya adalah usaha manusia yang bertujuan tetap hidup. Ada yang melakukan aktivitas tersebut untuk tujuan jangka pendek, seperti hanya untuk kebutuhan diri sendiri. Ada juga yang melakukan aktivitasnya untuk kebutuhan diri dan bahkan untuk keberlangsungan keturunan yang mewariskan keunggulan gennya.

Jika insting manusia adalah bertahan hidup, lalu mengapa manusia candu dengan hal-hal yang merusak dirinya seperti rokok, minuman alkohol, zat adiktif, pornografi dsb?

Jawabannya adalah karena ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap apa yang merusak dirinya tersebut. Selain itu, dibalik candunya hal atau aktivitas tersebut ada pengorbanan yang dirasa pantas untuk saat itu, misal zat adiktif dan pornografi diketahui merusak otak, namun dirinya merasakan kesenangan. Pengorbanan (seperti rusaknya otak) ini dirasa tak seberapa dengan kesenangan yang didapat saat itu. Sebaliknya ada pula yang merasa kesenangan yang didapat tak seberapa dengan pengorbanan yang terjadi.

Jadi, jika pun manusia tau efek buruk yang akan terjadi, manusia akan tetap mengkonsumsi atau melakukan aktivitasnya tergantung seberapa besar penghargaannya pada satu-satunya hidup yang tak kekal ini.

Jika hidupnya dirasa lebih berharga, maka pengorbanan yang dilakukan untuk hal candu tersebut terasa sangat mahal, sehingga dirinya tak ingin melakukan pengorbanan itu (baik pengorbanan waktu maupun fisik)
.
Terlepas dari baik buruknya aktivitas-aktivitas tersebut, sekali lagi menurut saya, semua adalah demi keberlangsungan hidup sendiri (dan keturunan). Poligami, monogami, membunuh, merawat, berdagang, mencuri, beribadah, (dan kadang) bunuh diri juga termasuk.

Ya, kadang bunuh diri pun adalah salah satu cara manusia ingin hidup (..sebagian manusia lebih tepatnya). Manusia sulit menerima keadaan bahwa dirinya tak kekal, kematian selalu menghantuinya dan pertanyaan ada apa dibalik kematian menghampirinya. Karena tak puas dan tak ingin menerima kenyataan yang menyakitkan (jika ternyata mati itu mati) dan juga sebagai bentuk insting bertahan hidup, sebagian manusia memilih percaya setelah mati di dunia, hidupnya akan berlanjut lagi dan kekal begitu seterusnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang tak percaya dengan kehidupan setelah mati tetapi bunuh diri? Tentu ada pengorbanan juga dalam memilih keputusan tersebut. Kita tak tau seberapa sulit kehidupannya dan apakah kita sendiri mampu jika ditempatkan dalam kondisinya, sehingga baginya mungkin mengakhiri hidupnya lebih baik. Layaknya bisnis yang selalu merugi sehingga memilih tutup.

Nah, apakah hidup kita saat ini terasa seperti bisnis yang selalu merugi? Semoga tidak..
Sadari saja, kelahiran kita di dunia bisa jadi bukanlah hal yang diinginkan orang tua kita, tapi lihatlah sudah berapa tahun kita hidup, pengorbanan yang mereka lakukan selama kita dikandungan itu sangat-sangat besar. Bisa saja kita terbunuh/dibunuh sebelum kita lahir di dunia.

Categories
Boleh tahu? Opini

Bahaya Indoktrinasi Sejak Kecil

Apa itu indoktrinasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan indoktrinasi adalah pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja. Ya, tak boleh dikritik. Inilah mengapa ia disebut indoktrinasi.



Menurut saya, indoktrinasi apalagi jika dilakukan pada anak kecil adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Bayangkan saja, anak-anak memiliki kemampuan untuk menyerap suatu ajaran dengan cepat, contohnya seperti kita yang dulu lebih mudah belajar membaca dan berbahasa daripada kita ketika dewasa.

Jika anak-anak diajari sesuatu sejak kecil, maka ajaran tersebut akan kuat terekam dalam otak anak-anak tersebut sampai ia dewasa. Beruntunglah jika sesuatu yang diajarkan adalah kasih sayang. Namun sangat disayangkan jika yang diajarkan adalah kebencian terhadap yang berbeda.


Indoktrinasi membunuh sisi kritis dan kebebasan anak-anak untuk bertanya. Anak-anak yang ingin menguji ide yang di doktrin, biasanya akan dilarang dan bahkan diancam jika tetap bertanya. Memang indoktrinasi dirancang sedemikian rupa agar doktrin yang ditanam dapat diterima begitu saja, sehingga siapapun yang bertanya akan takut dan akhirnya korban indoktrinasi pun yakin bahwa doktrin tersebut benar dan harus diperjuangkan sampai mati, sehingga doktrin tersebut tetap hidup.

Mereka, anak-anak yang berhasil didoktrin, akan diperbudak sampai dewasa. Mereka tak bebas berpikir, mereka tak bebas memilih. Anak-anak tentu saja tak dapat memilih mereka akan lahir dimana, sayang, setelah tak dapat memilih lahir dimana, mereka diberi label oleh keluarga/lingkungan tempat lahirnya. Tentu anak-anak tersebut tak pernah memilih label itu, apalagi dengan pertimbangan yang matang.

anak komunis, anak marxist, anak ateis, anak muslim, anak kristen… mengapa memberi label pada anak?

Anak-anak yang berhasil diindoktrinasi sejak kecil kemudian bersatu dalam grup-grup, menjadi dewasa dan akhirnya mendoktrin. Mungkin tak diajari membenci, tapi mungkin yang diajarkan adalah orang dengan ide berbeda itu hina. Mereka yang berhasil didoktrin akan diadu domba dan mungkin menjadi alat politik untuk memuluskan perjalanan suatu hal/ide/seseorang untuk menguasai dunia.

dailymail.co.uk: How North Korean children are taught to hate the American at kindergarten

Proses melepaskan diri dari indoktrinasi bukanlah hal mudah. Melawan pikiran sendiri, melawan ide yang telah ditanam kedalam pikiran sejak kecil. Proses indoktrinasi tak sama dengan menanamkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan (sains) bukanlah indoktrinasi karena prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan menuntut evaluasi diri yang kritis dan sikap mempertanyakan pikiran sendiri (skeptis).

Karena itu, jangan mendoktrin anak-anak kita, biarkan mereka membentuk opininya sendiri dan memilihnya ketika dewasa. Sebagai gantinya, ajarkan anak-anak cara berpikir yang baik, ajarkan mereka cara bernalar dan ajarkan mereka nilai-nilai kemanusiaan.

Stop indoktrinasi sejak kecil, sehingga akan terbentuk generasi masa depan yang sulit untuk diadu domba. 🙂

Categories
Boleh tahu?

Kesesatan Logika

Mampu berargumen dengan baik, dengan menghindari kesalahan logis adalah hal yang sangat berharga saat ini, dimana banyak orang yang terbuai dengan kata-kata indah yang dilontarkan seorang terkenal, dibaliknya kadang terdapat kesesatan logika. Tidak kiritis membuat kita rentan ditipu oleh mereka yang pandai bermain bahasa.

Kesesatan logika atau kesalahan penalaran ini bisa terjadi pada siapa saja, karena telah terbiasa dan diterima saja oleh orang yang mendengarnya.

Kesesatan Logika, atau Fallacy secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Formal

Kesesatan formal adalah kesesatan dalam berargumen yang terjadi karena bentuk penalaran yang tidak tepat. Jadi kesesatan ini tidak memperhitungkan apakah argumennya benar atau tidak, yang diperhitungkan adalah struktur penalarannya yang salah.

  • Informal
Kesesatan informal adalah argumen yang tidak keliru secara struktur (seperti formal). Namun disebut keliru karena alasan yang digunakan dalam argumennya sendiri tidak tepat.

Nah, kebanyakan kesesatan penalaran yang terjadi adalah karena alasan yang tidak tepat ini (informal), beberapa kesesatan informal yang sering terjadi adalah:

  • Argumentum ad ignorantiam
(Argument from ignorance). Kekeliruan yang terjadi karena menganggap sesuatu benar karena belum dibuktikan salah, atau sebaliknya, sesuatu salah karena belum ada bukti yang benar.
Contoh:
-Karena tidak ada yang bertanya, berarti dianggap sudah mengerti.
-Karena diam, berarti sama saja mengatakan ya.
-Selama tidak ada bukti bahwa tuhan ada, berarti tuhan pasti tidak ada.
  • Moving the goalpost
Moving the goalpost adalah kesalahan logis yang terjadi ketika salah satu pihak yang awalnya memiliki argumen berlawanan pada akhirnya sepakat dengan argumen lawan. Namun tidak mengakuinya dan mengganti standar ke lainhal. Hal ini biasanya taktik yang dilakukan oleh yang kalah berargumen dalam upaya untuk menyelamatkan muka.
Contoh:
Dalam debat antara evolusionis dan kreasionis, kreasionis akan meminta evolusionis untuk memberi contoh apa yang sedang berkembang (berevolusi) saat ini. Namun ketika contoh telah diperlihatkan, pihak kreasionis akan mengubah standar dari maksud kata ‘berkembang’ yang mereka minta buktikan.
  • Red herring
Red herring adalah gaya argumen di mana topik yang tidak relevan disajikan dalam upaya mengalihkan perhatian dari masalah asli. 
Contoh:
1. Topik A sedang dibahas.
2. Tiba-tiba topik B diikutsertakan dengan kedok topik B tersebut berhubungan dengan topik A. (Padahal topik B tak berhubungan dengan masalah asli.)
3. Topik A menjadi terlupakan, orang-orang teralihkan perhatiannya dengan diarahkan ke topik B.
  • False analogy
False analogy atau analogi yang salah adalah kesalahan yang menggunakan analogi (membandingkan benda atau ide-ide yang memiliki karakteristik serupa) untuk mendukung argumen, tetapi kesimpulan yang dibuat tersebut tidak didukung oleh analogi karena dua benda tersebut sesungguhnya berbeda.
Contoh:
-Semesta itu seperti jam tangan, sebuah jam tangan pasti ada pembuatnya. Karena itu, sama seperti jam tangan, semesta pasti ada desainernya.
-DNA itu kode, sebuah kode membutuhkan kecerdasan, karena itu DNA berasal dari kecerdasan.
  • Straw man
Straw man (seperti orang-orangan sawah) adalah sosok yang tak merepresentasikan orang sebenarnya, yang diciptakan oleh posisi lawan dalam berargumen. Straw man diciptakan dengan maksud agar orang-orang ikut setuju/menyerang posisi lawan sehingga lawan dapat dikalahkan dengan mudah. Padahal sosok straw man tersebut tidak menggambarkan posisi lawan.
Struktur:
1. A menyampaikan posisi X.
2. B, sebagai lawan A, mengabaikan beberapa poin X tersebut, dan sebagai gantinya malah menyerang posisi Y.  Posisi Y merupakan versi menyimpang dari posisi X, dimana Y tersebut bisa dimunculkan dalam beberapa cara seperti:
– Menyajikan posisi lawan yang keliru.
– Mengutip kata-kata lawan diluar konteks.
– Menyerang pembela terlemah dari posisi X tersebut, kemudian menyangkal argumen dari pembela posisi tersebut, sehingga B memberi kesan bahwa semua orang yang membela posisi X telah dikalahkan.
– Menciptakan sebuah sosok fiktif dengan posisi X, yang kemudian dikritik, menyiratkan bahwa orang tersebut merupakan bagian sangat penting dari kelompok pembela posisi X. 
– Menyederhanakan argumen lawan, kemudian menyerang versi yang disederhanakan ini.
3. B menyerang posisi Y, dan menganggap posisi X dari A telah dipatahkan.
Contoh lainnya:
A percaya pada adanya evolusi. B mengatakan A setuju bahwa nenek moyang manusia adalah monyet. Kemudian B mencoba mematahkan pernyataan A dengan menyatakan jika nenek moyang manusia adalah monyet mengapa monyet masih ada.
Intinya, straw man adalah upaya mencitrakan lawan bukan dengan posisi aslinya, kemudian menyerang hasil citra tersebut, bukan argumen asli dari lawan.
  • Argumentum ad hominem
Kesesatan ini terjadi karena menyerang orang yang menyampaikan pendapatnya, bukan pendapat dari orang itu sendiri. Ad hominem dibagi menjadi dua, abusive ad hominem (menyerang pribadi yang menyampaikan argumen) dan ad hominem circumstancial (menyerang karena kelompok atau lingkungan asal orang yang menyampaikan argumen.
Pembenaran dari abusive ad hominem biasanya melibatkan gender, fisik, sifat dan psikologis.
Contoh abusive ad hominem:
1. Ani baru belajar menyetir mobil,
2. Mesin mobil Bambang rusak lalu Ani memberi pendapat mengenai mobil tersebut,
3. Pendapat Ani tidak dipedulikan oleh Bambang.
Disebut sesat karena bisa saja Ani baru mahir menyetir namun mengerti betul tentang mesin.
Contoh ad hominem circumstancial:
1. Ani berasa dari suku X
2. Pak Dosen tidak suka dengan orang suku X
3. Ani tidak diluluskan oleh Pak Dosen karena Ani salah satu suku X.
1. B mencalonkan diri sebagai presiden
2. Kelompok ateis, yang dipandang negatif oleh orang-orang, mendukung B sebagai capres
3. Karena B didukung oleh kelompok ateis, berarti B negatif.
Biasanya ad hominem circumstancial terjadi atas karena suka tak suka, kepentingan kelompok dan bukan kelompok dan hal SARA lainnya. Contoh lain:
-Saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan Ani karena Ani bukan orang Islam
-Jangan dengarkan pendapat dia karena dia homoseks.
Intinya ad hominem terjadi ketika seseorang berusaha mematahkan argumen seseorang dengan cara menyerang/menjelek-jelekkan personal orang yang menyampaikan argumen tersebut. Padahal belum tentu apa yang dikatakan salah.
  • Argumentum ad lapidem
Kesesatan karena menyatakan suatu argumen adalah absurd tanpa menyebutkan dimana letak absuditasnya.
Contoh:
A: X adalah benar.
B: Itu konyol!
A: Mengapa?
B: Jelas, itu konyol.
  • Argumentum ad verecundiam
(Argumentum ad auctoritate/Appeal to Authority). Kesesatan yang menganggap bahwa suatu klaim/argumen/pernyataan benar karena yang menyatakan tersebut adalah orang terkenal ahli dibidangnya.
Strukturnya:
A menyatakan posisi X dalam bidang Q
A terkenal ahli dibidang Q.
Karena itu X pasti benar.
Contoh:
-Apa yang dikatakan profesor itu pasti benar.
-Apa yang dikatakan ulama itu pasti benar.
  • Post hoc, ergo propter hoc
Artinya “setelah ini, karena itu karena ini”, atau dalam arti lain kesesatan yang terjadi ketika dua kejadian terjadi secara berurutan, menganggap kejadian pertama adalah penyebab kejadian kedua.
Struktur:
X terjadi sebelum Y, oleh karena itu X menyebabkan Y.
Contoh:
-Ayam berkokok, kemudian matahari terbit. Matahari terbit karena ayam berkokok.
-Wanita memakai celana pendek, kemudian gempa. Gempa terjadi karena wanita memakai celana pendek.
  • Argumentum ad populum
(Appeal to Popularity). Kesesatan yang menganggap hanya karena suatu klaim/argumen populer atau mayoritas orang percaya, berarti sesuatu itu benar. Biasanya digunakan di iklan-iklan.
Struktur:
1. Mayoritas orang percaya X.
2. X berarti benar.
Contoh:
-Islam agama mayoritas di Indonesia, berarti Islam benar.
-8 dari 10 wanita memilih shampoo A, mengapa anda tidak?
-Mayoritas orang yang merokok sehat-sehat saja.
Memang banyak argumen benar yang populer, tetapi argumen/klaim tersebut bukan menjadi benar karena populer atau diterima banyak orang. Intinya, yang banyak belum tentu benar, dan yang benar belum tentu banyak.
  • Argumentum ad antiquitatem
(Appeal to Tradition). Kesesatan yang terjadi ketika menganggap sesuatu adalah benar atau lebih baik karena itu telah dilakukan sejak dulu, sudah menjadi tradisi.
Struktur:
1. X selalu dilakukan.
2. Karena itu X berarti benar.
Contoh:
-Sejak berabad-abad lamanya tembakau telah digunakan sebagai bagian dari pengobatan di Amerika kuno, karena itu tembakau pasti baik.
-Orangtua kita daridulu menggunakan metode ini, karena itu lebih baik kita juga menggunakan metode ini.
  • Argumentum ad novitatem
(Appeal to Novelty). Klaim keliru yang menganggap bahwa sesuatu yang baru pasti lebih baik.
Struktur:
1. X adalah baru.
2. Biasanya yang baru adalah yang lebih baik.
3. Karena itu X pasti lebih baik.
Contoh:
– Jika ingin kurus, lebih baik pakai metode baru ini.
– Ayo update software ke versi yang lebih baru supaya supaya lebih bagus.
– Mari kita wujudkan pemerintahan baru!
  • False dilemma
False dilemma, atau dikotomi yang salah, adalah sebuah kekeliruan logika yang melibatkan dua pandangan yang bertentangan, dimana pilihannya tampaknya menjadi satu-satunya kemungkinan, yaitu: jika ada yang benar, yang lain pasti salah, atau, jika Anda tidak menerima salah satunya, maka yang lain harus diterima. Kenyataannya dalam banyak kasus adalah bahwa ada banyak di antara atau opsi alternatif lainnya, bukan hanya dua hal yang dipertentangkan tersebut.
Contoh:
– Dukung KPK atau tidak? Jika tak dukung KPK, berarti koruptor.
– Kreasionis atau bukan? Kalau bukan berarti evolusionis dan ateis. (Padahal juga ada posisi teis evolusionis)
Pascal’s wager yang terkenal; menyatakan bahwa lebih baik untuk percaya pada tuhan sehingga kalaupun salah (tuhan tak ada) tak rugi apapun, daripada tak percaya sama sekali dan berisiko terbakar di neraka jika ternyata tuhan ada.
Homer Simpson merespon Taruhan Pascal: “misalkan kita telah memilih tuhan yang salah, setiap kali kita ke gereja (menyembah) berarti kita sedang membuatnya (tuhan yang benar) semakin marah, dan marah!”
  • Association fallacy
Kesesatan jenis ini adalah kesesatan karena menerapkan citra bagi suatu kelompok berdasarkan citra dari seseorang, dan sebaliknya. Citra yang dihasilkan bisa berupa citra positif maupun citra negatif.
Contoh penggunaan positif:
– Dalai Lama adalah penganut ajaran Buddha. Dalai Lama orang baik, berarti Buddha baik.
Contoh penggunaan negatif:
– Joseph Stalin adalah ateis. Stalin membunuh jutaan orang, karena itu ateis jahat.

  • Fallacist’s fallacy
Kesesatan karena menganggap suatu pernyataan salah karena alasan/argumen pendukung pernyataan itu sendiri adalah berupa kesesatan.
Contoh:
“Dalai Lama adalah penganut ajaran Buddha. Dalai Lama orang baik, berarti Buddha baik.” adalah contoh dari association fallacy.
Jadi, ajaran Buddha itu baik adalah tidak benar karena argumen pendukungnya merupakan association fallacy.

  • Cherry picking
Cherry picking yaitu tindakan mengambil poin-poin baik dari suatu kasus untuk mendukung suatu posisi/argumen dengan mengabaikan sebagian besar kasus yang mungkin bertentangan dengan posisi yang ingin didukung. 
Contoh:
Mengutip isi suatu buku, menggunakan buku tersebut sebagai pendukung argumen, sementara isi buku tersebut banyak yang bertentangan dengan posisi argumen yang ingin dipertahankan.
kalo kata Sherina, gitu..
  • Circular logic
Circular logic (Circular reasoning) ataupun argumen melingkar adalah sebuah kesesatan logika yang terjadi ketika menyatakan “A adalah benar karena B adalah benar, B adalah benar karena A adalah benar”.
Contoh:
A: “Buku X adalah benar karena pernyataan Y dalamnya yang menyatakan bahwa buku X selalu benar.”
B: “Bagaimana kamu bisa tau bahwa pernyataan Y tersebut benar?”
A: “Karena buku X benar.”

Sebenarnya masih banyak lagi jenis-jenis kesesatan logika selain yang disebut diatas. Kesalahan logis itu seperti ilusi pemikiran, dan mereka sering digunakan oleh politisi dan media untuk membodohi orang. Jangan sampai kita ikut tertipu.
Dan semoga kita pun bisa terhindar dari argumen yang tidak logis. 🙂
untuk kesesatan logika lainnya, cek: wikipedia.org, rationalwiki.org atau yourlogicalfallacyis.com
Categories
Imaji

Kelak Ketika Kau di Surga

Aku akan ke neraka, ke setiap neraka yang ada. Tak usah kita berdebat neraka yang mana, pokoknya aku akan ke sana, aku akan ke neraka dari setiap kepercayaan yang ada.

Kelak ketika kau di Surga, tentunya Surga yang kamu yakini itu, ingatlah bahwa kau ada di sana karena makhluk-makhluk seperti ku ada di neraka.

Kelak ketika kau di Surga dan dalam keabadianmu menikmati segala keindahan di sana, kuharap kau tak lupa kau ada di sana di atas penderitaan kami, makhluk-makluk yang (digariskan) ada di neraka.

Tak kan ada kebaikan tanpa keburukan.

Jika kami tak ditakdirkan memilih (yang kamu anggap) keburukan itu, maka sia-sialah neraka itu ada. Untuk apa Tuhan menciptakan neraka?

Kau tahu kenapa setan ada? Dia agen Tuhan. Dia ada untuk melaksanakan tugasnya, yang tentu saja telah digariskan oleh Yang Maha Tahu itu. Dia tak pernah ingkar dengan janjinya pada Tuhan. Janjinya untuk bertugas membuat orang-orang masuk neraka. Sebagai bahan bakar neraka, agar api neraka terus menyala. Sehingga tak sia-sia Tuhan menciptakannya.

Kau tahu kenapa setan yang terpilih ke neraka? Karena dia menolak bersujud pada manusia.
Kau tahu kenapa setan menolak bersujud pada manusia? Konon, karena menurutnya hanya satu sembahannya, yaitu Tuhan.

Iya, setan dihukum karena menolak menyembahmu, manusia. Dia ada di neraka agar manusia ada di surga. Tak kan ada kebaikan tanpa keburukan. Itu sudah menjadi ketentuan-Nya. Tidak mungkin semuanya menjadi baik.

Oh ya, aku dengar, kelak kau di surga boleh meminta apa saja. Akankah kau meminta makhluk-makhluk seperti kami juga masuk surga?

Aku tahu kau ingin ke surga, semuanya ingin ke surga. Tapi aku, sepertinya, terpilih ke neraka. Semuanya masuk surga itu mustahil, kan?

Sebelum aku ke neraka, maukah kau bersama ku mencoba untuk membuat dunia ini menjadi surga bagi kita semua? Sebuah dunia dan kesempatan yang satu-satunya kita aku miliki untuk menikmati kehidupan, alangkah indahnya jika kita hidup berdampingan dan mampu menciptakan surga disini. Siapa yang tahu jika ternyata memang itu tugas kita ada di sini, menciptakan surga bagi kita, penerus kita dan spesies lainnya. Dengan cara tak bertengkar dan membuat kekacauan, meributkan surga dan neraka mana yang benar-benar ada.

Aku takut, jangan-jangan kita mati begitu saja, hampa tanpa kelanjutan dan meninggalkan dunia yang menjadi semakin kacau untuk penerus kita, yang terus menerus bertengkar tentang kehidupan selanjutnya yang ternyata (bisa jadi) tak ada.

Kelak jika memang kau berhasil masuk surga, aku mohon, maukah kau meminta-Nya mengulang semua kehidupan di dunia ini menjadi lebih baik? Aku dengar di sana kau bisa minta apa saja. Apa kau tak ingin membuat suatu kehidupan baru yang lebih baik? Atau itu tak mungkin karena itu tak bisa? Ah iya, ku dengar kalau kau bisa mewujudkan semua yang kau inginkan, itu sih kau jadi Tuhan namanya.

Tapi kalau pun bisa, jangan-jangan kehidupan yang kita jalani sekarang adalah hasil dari permintaanmu di masa depan yang berhasil masuk surga di sana?

Aku pasrah saja. Terserah kau lah. Pokoknya aku masuk neraka, kau masuk surga.

Categories
Opini

Semua Yang Ada di Dunia Ini adalah Hal Buruk

Hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan dan semua pilihan itu buruk. Semua ada pro dan kontranya, begitu kata orang. Ada juga yang mengatakan apapun yang kita lakukan, selalu ada orang yang anti atau pun memandang negatif terhadap hal itu. Ini adalah bukti apapun yang ada di dunia ini adalah hal buruk, dan yang kita pilih adalah hal buruk yang menurut kita baik.

Kita memilih yang terbaik dari yang buruk-buruk. Mempertimbangkan efek dari keburukan mana yang bisa kita toleransi, dengan nafsu dan pembenaran dari kita sendiri.

Banyak contohnya, bicara soal merokok misalnya, ada orang yang tak setuju, ada yang setuju, salah satu alasan yang setuju: karena ekonomi orang lain. Tiba-tiba kita tak memedulikan kesehatan kita (dan orang sekeliling kita) karena itu mata pencaharian orang lain.

“Kalau semua orang berhenti merokok, bagaimana nasib pekerja di perusahaan rokok itu?” Tiba-tiba kita peduli tentang uang orang lain, dan tak melihat orang-orang yang tersiksa karena rokok. Sangat dermawan. Tak masalah, saya tak mempermasalahkan perokok yang merokok di tempat yang tepat..

Ada kampanye matikan televisimu. Kampanye yang muncul karena maraknya acara tak bermutu di industri pertelivisian Indonesia. Saya tak mendengar pembelaan dari orang-orang yang mirip seperti kasus rokok tadi, misal seperti “Kalau banyak orang serentak mematikan televisinya, kasihan yang ada di industri televisi, kasihan karyawan-karyawan perusahaan media televisi.”. Kenapa orang-orang yang tetap memilih menonton televisi tak berkata seperti itu? Suka-suka gue dong mau nonton mau nggak, TV-TV gue kok. 🙂

Tiap-tiap dari kita ingin memenuhi kebutuhan kita sendiri, dalam kasus acara televisi, orang-orang yang tetap memilih nonton televisi itu karena butuh hiburan. Mungkin dalam kasus rokok pun demikian, ada hasrat memenuhi kebutuhan. Bedanya, menonton acara televisi (yang tak bermutu itu) ruginya di kita sendiri. Sedangkan merokok bisa merugikan orang disekitarnya (jika asapnya dibagi-bagi).

Semua ada pro dan kontra. Poligami yang dulu hal biasa, sekarang jadi aneh bagi orang-orang, khususnya perempuan. Tapi ketika poligami diterima, poliandri tak bernasib sama, dalam waktu bersamaan orang-orang bisa memaklumi poligami tapi tidak dengan poliandri. Kita memilih mana yang baik dari yang buruk, dengan pembenaran, untuk kenikmatan kita sendiri. Dalam kasus poligami yang saat ini lebih dimaklumi dari pada poliandri, laki-laki berhasil melakukan pembenaran dan mengarahkan opini sampai-sampai perempuan setuju di poligami.

Jika kita merubah sudut pandang, menjadi orang yang melihat orang lain yang memilih hal buruk. Percayalah, hal yang menurut kita buruk itu adalah hal terbaik yang dipilih oleh orang tersebut.

Semua pilihan yang kita hadapi di dunia ini berpotensi sebagai hal buruk di mata orang lain. Kita hanya memilih yang terbaik dari buruk-buruk itu. Jadi, orang-orang yang (menurut kita) memilih pilihan buruk sebenarnya memilih yang terbaik, setidaknya menurut mereka sendiri.

Begitulah kenyataan dunia, dan itulah mengapa akhirat ada di pikiran manusia, karena kita tak terima dengan segala ‘keburukan’ yang ada di dunia ini. Segala yang ada di akhirat adalah hal baik. Keabadian surga, kekekalan siksaan di neraka, semuanya adalah hal baik. Ya, kan?