Review Mi Vegan DAAI Rasa Soto: Enak sih, tapi…

R

DAAI vegan noodle, begitu tulisan besar yang tertulis di bungkusnya. Dua hal yang menarik perhatian saya adalah tulisan DAAI dan vegan. Pertama, yang saya tau DAAI itu salah satu channel TV, eh ternyata ada produk minya juga toh. Kedua, walaupun bukan seorang vegan, saya termasuk yang menikmati makanan-makanan dengan embel-embel vegan. Mi ini berhasil menarik perhatian saya saat belanja. Saya beli deh. Harga rata-ratanya Rp. 3500 per bungkus, ada juga lho yang jual sampai 5000 rupiah bahkan lebih. Apakah rasanya sebanding dengan harganya yang lumayan mahal?

Lama tak tersentuh di lemari penyimpanan, hari ini saya sempatkan memasak mi ini. Dari bungkusnya, saya baru sadar kalau mie ini diproduksi oleh Indofood bekerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Yayasan inilah yang juga memiliki DAAI TV. Mengutip tulisan di situs tzuchi.or.id, ternyata keuntungan dari penjualan Mi Instan DAAI ini juga digunakan untuk menyebarluaskan cinta kasih melalui DAAI TV dan juga dialokasikan untuk misi Amal Yayasan Buddha Tzu Chi. Yayasan Buddha Tzu Chi termasuk salah satu yang memberikan bantuan ketika terjadi bencana alam di Indonesia, salah satunya tsunami di Aceh dulu. Jadi kalau gak cocok di lidah, harga mahal mi ini dihitung-hitung buat beramal lah. Tapi kalo kelewat mahal itu berarti Anda ‘beramal’ ke pedagang yang menjual eceran. Hahah

Selain bersertifikat halal MUI dan terdaftar di BPOM-RI, mi instan DAAI juga lolos uji laboratorium dan mendapat predikat makanan vegan dari Asia Pacific Vegan Certification Limited, Hong Kong dan sertifikat dari Indonesia Vegetarian Society (IVS). Seperti terlihat pada komposisinya, mi ini diklaim tanpa menggunakan pengawet, tanpa pewarna artifisial, tanpa bawang dan telur serta tanpa tambahan MSG. Selain itu mengandung antioksidan dan mineral zat besi. Tak ada informasi vitamin apa saja yang ada dalam satu sajian Mi Instan DAAI ini.

Dengan berat 85 gram dan harga 3500 rupiah, kalori per sajiannya (1 bungkus) adalah 390 gram. Berarti biaya per 100 kalorinya adalah 897 rupiah. Proteinnya hampir setara 1 kotak susu 250 ml, tapi lemaknya ngalahin sekotak susu. Kandungan garamnya pun sangat tinggi, lebih dari 1 gram.

Bagaimana di dalam bungkusnya? Ada apa saja?

Ada bumbu dan minyak. Untuk bumbu terdiri dari garam, gula, perisa sintetik vegetarian (mengandung alergen: kedelai), jeruk nipis, kunyit bubuk, lada bubuk. Tersedia juga cabe bubuk, serta minyak nabati dengan rempah-rempah di dalamnya. Tidak ada bawang, sepertinya karena target pasar mi ini untuk kalangan Buddha yang harus menghindari konsumsi bawang.

Untuk mi mentahnya, tidak ada aroma aneh, rasanya pun sangat enak untuk mi yang tanpa menggunakan telur. Seperti ada rasa susu full cream. Lalu bagaimana rasanya ketika matang? Kita masak dulu sesuai cara penyajian di kemasannya.

Kita rebus mi mentahnya dalam 400 ml air mendidih selama 3 menit. Setelah itu mie dituang ke dalam mangkok yang sudah berisi bumbu. Nah, setelah air rebusan mi bercampur dengan bumbu di mangkok, langsung tercium aroma jeruk nipis yang sangat tajam. Namun, ketika kuahnya dicoba, tidak ada rasa asam jeruk nipis yang mengganggu, rasa jeruk nipisnya pas. Malah lebih dominan rasa pedas, ya walaupun tidak pedas-pedas amat kok.

Rasa minya ketika matang sangat menarik, lembut. Ini sih bawaan minya udah enak. Tiga menit untuk merebus adalah waktu yang pas menurut saya. Namun, rasa mi ini tidak menyatu dengan kuah. Bukannya nggak enak ya, baik mi maupun kuahnya sama-sama enak. Cuma rada gak nyampur aja gitu, bagi saya rasa minya lebih dominan, kuah sedikit hambar.

Oiya, kuahnya tidak seperti soto yang diharapkan, ya toh nggak disebut juga ini rasa soto ayam atau daging-dagingan. Cuma menebak dari rasanya ya bisa lah disebut soto. Soto mie. Jangan lupa aduk kuahnya terus karena didiamkan sebentar bubuk cabenya ngambang semua, jadi kayak ada minyak cabe yang bisa bikin Anda batuk-batuk.

Tuh liat, kuahnya rada merah-merah cabe.

Secara keseluruhan ini mi dan kuahnya enak, bukan enak-enak banget sih. Rada hambar, ya namanya juga tanpa MSG kali ya. Saya tidak mengerti juga kenapa tidak pakai MSG, apakah karena embel-embel sehat dan vegan? Setau saya sih MSG itu aman dan bukan produk turunan hewan juga kok. Saran saya bagi yang bolehlah kalian kurangi airnya sekitar 50-100 ml supaya rasanya lebih kuat, lalu tambahkan telur (lah, jadi gak vegan lagi).

Ini mi yang juga enak kalau dicemilin mentah-mentah dengan bumbunya. Mi yang enak kalo mau dijadiin olahan lain kayak martabak mie! Karena gak keasinan, padahal garamnya udah tinggi yak. Mungkin garam tinggi ini untuk mengakali rasa tanpa MSG juga.

Sampai selesai makan mi ini yang menempel di lidah itu rasa minya, kalau kuahnya sih ya kayak rasa air jeruk nipis pakai kunyit dan cabe saja. Kalau gak percaya, cobain aja.

Segitu dulu ulasan dari saya, buat kalian yang sudah mencoba Mi DAAI Rasa Soto ini, kalian juga bisa lho ikut menambahkan skor lewat kolom komentar di bawah.

Baca juga review Mi Instan lainnya yang saya tulis di sini.

Mi Vegan DAAI Rasa Soto

Rp. 3500
6.8

Rasa

7.0/10

Porsi

5.5/10

Aroma

8.0/10

Keunggulan

  • Relatif lebih sehat
  • Aromanya segar
  • Rasa mi yang enak

Kekurangan

  • Kuah yang hambar
  • Mahal
  • Susah didapat

Tentang penulis

Beri Komentar

fifteen − 2 =

Oleh Zakwan

Get in touch

Categories