Menerima Anak Apa Adanya Tanpa Syarat

M

PERINGATAN: Artikel ini mengandung konten terkait bunuh diri, harap jangan dibaca lebih lanjut jika Anda dalam kondisi depresi atau memiliki kecenderungan bunuh diri. Hubungi profesional (psikolog/psikiater) jika anda membutuhkan bantuan.

Saya mendapat kabar seorang yang saya kenal telah meninggal dunia baru-baru ini. Saya dan dia kebetulan sudah lama tidak saling kontak jadi saya tidak tau kabar tentangnya. Setelah mendengar itu saya mengecek profil media sosialnya, di sana saya menemukan konten-konten yang mengkhawatirkan seperti pikiran untuk bunuh diri.

Berharap dugaan saya salah, saya menghubungi seorang teman untuk mengkonfirmasi kabar itu. Ternyata memang benar ia telah tiada, dikonfirmasi dari status berita duka dari saudaranya. Tapi kami masih tidak tau penyebab ia meninggal. Hanya saja beberapa waktu sebelumnya ia bercerita menyampaikan rasa sedihnya karena kekasihnya baru saja meninggal dan rasa kecewa terhadap orang tuanya. Keluarganya mengetahui soal hubungan dengan kekasihnya dan kesedihan berlarut yang dialaminya.

Dia seorang gay. Awalnya ia mengira keluarganya sudah menerima orientasi seksualnya. Tapi suatu hari ia mendengar percakapan antara kedua orang tuanya. Orang tuanya merasa bersyukur kekasihnya sudah meninggal. Orang tuanya menganggap kematian itu adalah jalan yang diberikan Allah agar ia mendapat hidayah. Orang tuanya memaksa ia untuk ‘bertobat’ agar menyukai perempuan.

Mendengar cerita itu saya sangat sedih dan berharap dugaan buruk saya tidak benar-benar terjadi. Kemudian seorang teman yang lain mengkonfirmasi ke pihak keluarga, ternyata ia meninggal karena bunuh diri. Kesedihan saya bertambah sekaligus marah, marah karena seharusnya hal ini tidak perlu terjadi. Teman-teman tidak bisa menolong banyak karena lokasi kota yang berbeda dan kondisi pandemi yang membatasi ruang gerak.

Bunuh diri memang tidak bisa disimpulkan karena satu hal saja. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri seperti faktor biologis, psikologis, dan sosial yang berinteraksi dengan kompleks dan dinamis. Namun yang pasti upaya seperti memaksa konversi orientasi seksual suatu individu disepakati sebagai hal berbahaya yang bisa menjadi salah satu faktor risiko bunuh diri. Kita seharusnya lebih peka terhadap situasi dan berhati-hati dalam berkata-kata, apalagi di hadapan orang yang baru saja mengalami kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berharga di hidupnya. Mereka yang berduka bisa saja mengalami perubahan psikologis yang drastis yang dapat menuju pada pikiran untuk bunuh diri.

Sejak lama memang ia sudah membicarakan rencana-rencananya untuk bunuh diri. Ditambah ia kecewa mendengar kata-kata orang tuanya. Ia berharap orang tua dapat mencintai anaknya tanpa syarat, dapat menerima ia apa adanya, menerima jalan hidupnya. Kehadiran kekasihnya saat itu membuat ia punya tujuan hidup dan kehilangannya benar-benar membuat ia terpukul.

Kebanyakan orang yang meninggal karena bunuh diri sebelumnya menunjukkan tanda peringatan bunuh diri, beberapa di antaranya adalah membicarakan keinginan bunuh diri, membenci diri sendiri, mencari cara untuk bunuh diri, mempersiapkan hal-hal yang harus ditinggalkan, mengucapkan perpisahan, menarik diri dari pergaulan, perilaku merusak diri sendiri, perubahan fisik dan mood yang drastis dan banyak lagi hal lainnya.

Tanda-tanda peringatan bunuh diri dapat berbeda-beda bagi tiap orang. Kita bisa membantu pencegahan bunuh diri salah satunya dengan mengenali tanda-tandanya seperti yang disebutkan dalam artikel ini:

Bagaimana jika orang yang memiliki tendensi untuk melakukan bunuh diri itu menolak bantuan?

Kita harus menghargai keputusannya sambil tetap menawarkan bantuan sewaktu-waktu jika dibutuhkan dan tetap menjadi pendengar yang baik. Selengkapnya dapat dibaca di sini: Menjadi Pendengar yang Baik

Saya juga pernah merasakan penolakan oleh orang tua karena identitas dan jalan hidup yang saya pilih. Saat keluarga mengatakan saya telah mempermalukan keluarga dan berbagai persoalan lain yang muncul bersamaan dan datang bertubi-tubi di saat itu membuat saya juga ingin mengakhiri hidup. Saya benar-benar merasakan kehadiran saya di dunia ini tidak diinginkan lagi. Sampai akhirnya seorang teman mempertemukan saya dengan bantuan profesional. Berkat pertemuan itu saya merasa kehidupan saya lebih baik. Dua tahun berlalu dan mungkin diri saya saat itu tidak menyangka ternyata ada jalan, ternyata masih ada harapan. Saya senang saya bisa bangkit dari keterpurukan itu dan saya percaya orang lain juga bisa melewati masa-masa sulitnya dengan bantuan yang tepat. Anda juga bisa menolong diri sendiri dengan mengetahui pertolongan pertama saat menghadapi pemikiran bunuh diri seperti ini: Pertolongan Pertama Saat Menghadapi Pemikiran Bunuh Diri

Sampai hari ini saya sangat sedih atas kejadian itu. Saya berharap tidak ada lagi anak yang merasakan depresi, cemas dan masalah mental lainnya karena orang tua yang memaksakan kehendak. Kekerasan terhadap anak tidak hanya dengan kontak fisik, tapi juga bisa dengan kata-kata. Ada yang bilang kata-kata orang tua bisa membunuh mimpi anaknya. Kelak jika menjadi orang tua saya berjanji akan memberikan ruang bebas bagi anak saya untuk berkembang dengan potensinya, membiarkan ia menghidupi hidupnya dengan penuh tanpa merampas hak-haknya sebagai manusia.

Love Your Child Unconditionally


Depresi bukanlah masalah yang remeh. Jika kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, harap hubungi dan diskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa. Selengkapnya tentang (pencegahan) bunuh diri dapat dilihat di sini: intothelightid.org

Tentang penulis

Beri Komentar

Oleh Zakwan

Get in touch

Categories