homepage + blog

New Normal Dalam Pergaulan Saya

N

New Normal belakangan ini banyak dibicarakan. New normal atau kenormalan baru di tengah pandemi korona adalah hidup sesuai protokol kesehatan untuk meminimalkan penyebaran virus korona. Pandemi COVID-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 memang membuat banyak hal di dunia ini berubah. Beberapa di antaranya adalah gaya hidup, cara berinteraksi dan apa yang dianggap normal. Sebelumnya, menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang bukanlah suatu yang normal dijalani sehari-hari, tapi sekarang hampir setiap orang menggunakan masker saat berada di luar rumah dan membatasi pertemuan fisik. Ini adalah kenormalan baru yang harus kita jalani.

Mendagri Tito Karnavian tampak normal saat mengenakan masker dengan gambar wajahnya sendiri. (Screenshot Kompas TV)

Menurut KBBI, normal adalah

menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan.

KBBI V

Konsekuensinya, orang yang tidak menggunakan masker, orang yang batuk sembarangan, orang yang tidak mencuci tangan di tengah pandemi ini bisa dilihat sebagai orang menyimpang. Dulu mungkin orang batuk itu biasa saja, tapi sekarang kalau batuk apalagi batuknya sembarangan bisa-bisa ditegur orang atau dilihat aneh.

Ngomong-ngomong soal new normal ini, saya jadi ingat satu kejadian yang sedikit tidak penting tapi bikin saya kepikiran soal kenormalan baru dalam hidup saya. Ceritanya waktu itu pasangan saya sedang stalking profil teman lelakinya. Di sana ada ilustrasi perempuan dengan simbol hati yang dibuat teman lelakinya tersebut untuk seorang perempuan. Pasangan saya lalu menanyakan pendapat saya, “itu pacar barunya kali ya?”.

Saya menjawab, “Ngasih love gitu bukannya bisa ke temen juga ya? Itu biasa kali, bisa jadi itu temen ceweknya.”

Pasangan saya membalas, “Iya bisa jadi.”. Dia diam sesaat, lalu menyambung kalimatnya lagi, “Tapi aku kenal banget sama dia. Dia bukan tipe orang kaya gitu.” Kemudian perdebatan antara saya dan pasangan pun terjadi, sampai akhirnya pasangan saya berkata, “Kamu nyadar gak sih, kamu kayaknya udah terlalu lama dengan dengan circlemu yang bukan normies itu, jadi ngeliat hal gitu biasa aja buat kamu, padahal buat kebanyakan orang itu bukan hal yang biasa.”

Gara-gara kata itu, saya jadi berpikir ulang, “Waduh, iya juga ya, jangan-jangan ada banyak hal lain yang biasa di dalam pergaulanku tapi mungkin nggak normal buat kebanyakan orang”. Dulu memang sekadar memberi like atau kasih love ke foto seorang perempuan bisa jadi drama besar. “Wah tandanya dia naksir!”. Sekarang sih biasa aja. Memberi komentar cakep ke lawan jenis atau ganteng ke sesama jenis pun suatu hal yang biasa dalam pergaulan saya.

Saya pun mencoba mengingat beberapa hal yang dulu saya anggap aneh tapi kini tidak. Bisa dibilang hal-hal ini adalah new normal dalam kehidupan saya dibandingkan dengan pergaulan saya satu dekade yang lalu:

Bertato,
Saya dulu punya prasangka kalau orang bertato itu pasti penjahat. Ternyata ada dokter bertato, ada PNS bertato, laki-laki maupun perempuan dan mereka orang-orang baik yang saya kenal. Bertato itu ternyata biasa aja.

Berpindah Agama,
Sebelumnya Islam kemudian Kristen, sebelumnya Islam kemudian Yahudi, sebelumnya Katolik kemudian Ateis. Macam-macam lah pokoknya. Kristen tapi masih shalat, Ateis tapi umrah. Lumrah terjadi di lingkar pergaulan saya.

Tidak Beragama,
Berpindah agama itu hal yang biasa, tidak beragama pun ternyata biasa aja. Teman saya ada yang agnostik, ateis, humanis atau apa pun lah namanya. Dari ateis kemudian menjadi beragama kembali pun juga ada.

Beragama Selain ‘Agama Resmi’ di Indonesia,
Si A agamanya Sikh, si B agamanya Syiah, si C agamanya Yahudi. Dulu saya kira orang Yahudi itu jahat-jahat dan licik. Ternyata? Ya biasa aja. Orang Yahudi benci Zionisme ada, Yahudi dukung Palestina itu ada.

Menikah/Berpacaran Beda Agama,
Bapaknya Islam, Ibunya Katolik. Anaknya Ateis. Saya kenal yang begitu.
Hubungan beda agama itu ada 3 macam di pergaulan saya;
– Agama di KTP sama, padahal beda. Sama-sama Islam, aslinya satu Ateis, satu lagi Islam.
– Agama di KTP beda, padahal sama. KTP satu Islam, satu Kristen. Aslinya sama-sama Ateis.
– Agama di KTP beda, aslinya juga beda.
Akur? Akur lah. Yang ribet mah orang lain.

Tinggal Satu Tempat Tanpa Menikah,
Berpacaran, tinggal di satu tempat, biar lebih hemat karena bisa patungan. Eh gak harus pacaran sih, bisa juga sama teman yang lawan jenis.

Bercinta Tanpa Rasa Cinta,
“Ya emang kenapa sih kalo misal FWBku cuma mau ngewe doang? Orang aku juga pengen ngewe doang sama mereka.” kata teman perempuanku saat curhat. Reaksiku? Biasa aja. Mereka kan sama-sama mau.

Tidak Menikah,
Umur 30an lebih, tidak menikah. Tidak akan menikah. Terus? Biasa aja.

Melajang,
Tidak pacaran, tidak menikah, jadi jomblo aja gitu. 10 tahun lalu bisa jadi lawakan ala Raditya Dika. Sekarang ya biasa aja.

Tidak Ingin Punya Anak,
Sudah menikah, tidak ingin punya anak manusia. Anaknya malah anjing atau kucing.

Ingin Punya Anak Tapi Gak Mau Sama Lelaki,
Perempuan pengen punya anak, tapi tidak mau berhubungan seks dengan laki-laki, mau anaknya diurus bersama-sama dengan teman perempuan. Ada, banyak.

Melihat Anak Sebagai Manusia, Bukan Investasi,
Bagi teman-teman saya, anak dilihat sebagai manusia, anak bukanlah investasi masa depan orang tua. Artinya apa? Namanya juga manusia, mereka bebas dan punya potensi jadi apa saja. Artinya mungkin orang tua memang tidak akan mendapatkan hasil apa-apa nantinya.

Hubungan Seks Tanpa Penetrasi,
Berhubungan lawan jenis, tetapi tidak pernah melakukan penetrasi seks. Biasa aja tuh. Seks tidak melulu soal kelamin lelaki masuk ke kelamin perempuan.

Aseksual,
Ternyata ada orang-orang yang berpasangan tapi tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan hubungan seks sama sekali. Saya jadi tau ada ketertarikan lain selain ketertarikan seksual.

Tidak Perawan,
Keperawanan seorang perempuan bukan hal yang penting bagi laki-laki di lingkar pertemanan saya, perempuan tidak dinilai dari keutuhan selaput daranya. Tidak ada istilah perempuan bekas, atau perempuan rusak karena tidak perawan.

Punya Pasangan Sesama Jenis,
Berpacaran atau menikah dengan sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Posting foto bareng, dimasakin, jalan-jalan, ada juga yang tanpa seks, layaknya hubungan biasa. Ya emang biasa aja sih.

Punya Teman Dekat Lawan Jenis,
Laki-laki berteman dengan perempuan, perempuan berteman dengan laki-laki. Tiduran sekasur. Baper? Nggak sih. Biasa aja.

Punya Pasangan Lebih Dari Satu,
Bukan selingkuh lho ya, si X udah nikah, pacaran sama Y, pasangannya tau dan juga punya pasangan lain. Poliamori namanya.

Punya Masalah Mental,
Ternyata hampir setiap orang punya masalah mental atau pernah mengalami masalah mental, dalam pergaulan saya masalah mental ini sama seperti sakit fisik, tidak malu untuk dibicarakan atau untuk terapi agar sembuh. Kadang saling berbagi di mana tempat untuk berobat atau siapa psikiater/psikolog yang disarankan.

Membahas Masalah Seks,
Berbicara soal seks dalam pergaulan saya bukanlah sesuatu yang tabu, bercerita punya penyakit seks, di mana tempat berobat yang bagus, bagaimana cara pencegahan penyakit menular seksual. Berbicara soal bagaimana mencapai kepuasan seksual. Semuanya biasa aja.

Laki-Laki Mengurus Rumah Tangga,
Laki-laki mencuci piring, perempuan bekerja di luar rumah. Itu hal biasa.

Perempuan Bilang Suka Lebih Dulu,
“Cowok yang duluan lah!” Dulu sih saya sering dengar orang bilang begitu. Kalo sekarang dengar cewek menyatakan perasaan duluan ke cowok ya biasa aja. Lha orang ada cowok nyatain perasaan ke cowok juga biasa aja kok.

Laki-Laki Merawat Diri,
Laki-laki menggunakan skin care atau make up, orientasinya bukan gay. Lagipula kalau gay juga kenapa sih.

Minum Alkohol,
Apakah minum-minuman keras pasti mabuk? Ternyata nggak juga. Walau ada yang minum untuk mabuk, ada juga yang minum sedikit dan gak sampai mabuk. Sebagian besar sih nggak mabuk.

KTP Islam Tapi Makan Babi,
Buanyaaaak. Banyak banget. Agama hanya tercantum di KTP tapi tidak dipraktekkan. Biasa aja.

Berpaham Kiri,
Ternyata berpaham kiri itu belum tentu komunis, ternyata komunis itu tidak sama dengan Ateis. Ternyata orang berpaham kiri dan taat beragama juga ada. Ternyata orang kiri tidak menyeramkan.

Masih banyak lagi hal lainnya yang mungkin saya sendiri sudah lupa saking normalnya.

Saya dulu memiliki prasangka dengan orang-orang yang ‘berbeda’ seperti itu, tapi seiring waktu semakin saya mengenal orang-orang baru dan beragam, semakin saya menyadari bahwa manusia itu kompleks dan ketakutan saya ada karena saya tidak mengenal mereka. Ternyata mereka manusia biasa dan saya yakin jumlahnya juga banyak di antara kalian semua.

Satu dekade ke depan entah hal apa yang akan menjadi kenormalan baru dalam hidup saya. Kalau di kalian new normalnya apa nih?

Tentang penulis

Beri Komentar

Oleh Zakwan
homepage + blog

Zakwan

Get in touch