Melihat Kisah Penciptaan Manusia Dari Sudut Lain

M

Sebagian besar masa kecil saya dihabiskan di Aceh, dalam didikan keluarga Islam dan tumbuh tanpa mengenal agama lain. Perihal agama lain hanya saya ketahui dari guru agama saya sendiri. Itu pun cuma Kristen dan Yahudi. Bisa ditebak lah bagaimana saya memandang dua agama tersebut saat itu. Sekadar berkomunikasi dengan orang yang berbeda agamanya saja tidak pernah, karena memang tidak ada orang beragama selain Islam di sekitar saya. Hal tersebut berlangsung hingga tsunami terjadi dan saya terpaksa dipindahkan ke luar kota.

Bersekolah di Jakarta membuat saya mengenal teman-teman dari agama yang berbeda dengan saya. Saat SMP saya punya teman yang beragama Kristen, waktu pelajaran agama ia membawa Alkitab ke sekolah, iseng-iseng saya meminjamnya dan membuka Kitab Kejadian. Kisah di Kitab Kejadian membuat saya kaget karena isinya mirip dengan kisah yang ada dalam Islam. Begitulah cerita perkenalan pertama saya dengan isi Alkitab.

Layaknya saya yang meyakini isi Al-Qur’an sebagai fakta saat itu saya pun beranggapan kalau seorang Kristen pasti meyakini kisah di Kitab Kejadian sebagai kisah penciptaan yang benar-benar terjadi. Itu saya yakini hingga saya bertemu dengan Pak Suar di tahun 2016. Pak Suar adalah pendeta dari Gereja Komunitas Anugerah (GKA) di Jakarta. Beliau menjadi sumber saya belajar dan mencari tahu soal kekristenan. Yang membuat saya semakin tertarik mencari tahu adalah karena kekristenan yang saya tau dari Pak Suar ternyata berbeda dari apa yang saya ketahui sebelumnya dari hasil googling.

Saya bersama Pak Suar, ditertawakan oleh teman-teman dari GKA.

Setiap kali saya mendengar penjelasan Pak Suar soal kekristenan, saya sering terpikir sayang sekali jika orang lain tidak tau soal ini. Karena itu di tahun 2019, saat saya sedang semangat-semangatnya membuat video di Youtube, saya ingin membuat acara tanya jawab soal kekristenan bersama Pak Suar. Isinya pertanyaan-pertanyaan polos saya sebagai seorang yang dibesarkan dalam agama Islam. Seperti, “kok Tuhannya orang Kristen tiga?”, “Kok Tuhan punya anak?” dan pertanyaan serupa lainnya. Tujuan utamanya agar saya paham, kedua agar orang lain tidak berprasangka seperti apa yang saya alami dulu waktu kecil karena tidak mengenal orang dengan agama berbeda. Tapi rencana itu gagal karena saya tidak menetap di Jakarta.

Tahun 2020, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di Jakarta dan kebetulan Pak Suar pun sedang menjalani cuti sebagai pendeta. Otomatis kami memiliki waktu untuk melaksanakan rencana lama itu. Saya pun membuat acara tanya jawab tersebut dengan alat seadanya, nama acaranya adalah NYASAR (Nanya-Nanya Sama Pak Suar).

Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di NYASAR saya kumpulkan dari teman-teman serta netizen di Twitter dan Facebook. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul, salah satunya adalah pertanyaan: “Bagaimana pandangan bapak soal eksistensi dinosaurus dan teori Darwin?”. Saya yang berpegang teori evolusi tentu sangat penasaran dengan jawaban Pak Suar. Pertanyaan ini saya tanyakan dan ditampilkan pada NYASAR episode 4 berikut:

Dari jawaban Pak Suar saya jadi tau ternyata evolusi tidak harus dilihat bertentangan dengan Alkitab. Saya juga jadi tau bahwa kita bisa melihat isi Alkitab, terutama Kitab Kejadian, dari sudut lain. Kitab Kejadian bukanlah penjelasan akan bagaimana alam semesta dan manusia ini diciptakan, melainkan untuk memberi kita orientasi dalam melihat dunia. Kita harus melihat isi Kitab Kejadian sesuai konteks pada masanya. Saat itu, terdapat kisah penciptaan populer dari Babilonia, yaitu Enuma Elish, yang selamat dalam bentuk tablet tanah liat. Peneliti menyebut mitos penciptaan pada Kitab Kejadian terinspirasi dari kisah dalam Enuma Elish yang lebih dulu ada. Kesamaannya antara lain dapat dilihat dari adanya elemen air, kekacauan dan kegelapan di awal mula penciptaan, hingga urutan kisah penciptaannya, di mana pada akhirnya sang pencipta beristirahat. Perbedaanya, dalam Enuma Elish, materi yang ada di dunia ini, termasuk manusia itu sendiri adalah bangkai atau sisa-sisa dari para Dewa yang berperang, yang kemudian digunakan untuk melayani para Dewa. Sedangkan di dalam Kitab Kejadian, posisi manusia sepertinya ‘lebih istimewa’, manusia adalah rekan sekerja Tuhan, untuk menjaga Bumi berkembang dan merawat kehidupan. Penulis Kitab Kejadian menggunakan templat dari kisah dalam Enuma Elish, namun membuat narasi yang berseberangan dengan Enuma Elish. Pembahasan lebih lengkap soal ini dapat dilihat dalam artikel Mitos Penciptaan dan Perdebatan Yang Tak Pernah Selesai di IndoProgress.

Selain kisah penciptaan alam semesta, dalam Epik Gilgames kita juga bisa melihat kisah Utnapisytim yang mirip dengan mitos banjir Nuh serta kisah Enkidu dan Shamhat yang mirip dengan kisah Adam dan Hawa. Utnapisytim adalah seorang pria yang membangun kapal besar dan mengangkut segala jenis hewan agar selamat dari air bah, kemudian dibantu burung untuk mengecek apakah banjir sudah selesai. Enkidu adalah manusia yang dibuat dari tanah liat dan ditemani perempuan bernama Shamhat. Kisah-kisah tersebut merupakan tradisi lisan turun-temurun yang diceritakan lintas generasi yang pada akhirnya ditulis. Awalnya tidak ada kertas maupun alat tulis, lalu kisah ini diadaptasi dalam Tanakh (Yahudi), yang kemudian terdapat pula dalam Kejadian (Kristen), yang akhirnya diadaptasi ke dalam Al-Qur’an (Islam). Bedanya jika dalam kisah Utnapisytim banjir terjadi karena suka-suka dewanya dan Utnapisytim juga dipilih karena suka-suka dewanya, dalam tradisi Yahudi dan Kristen banjir terjadi karena Bumi dan perilaku manusia yang sudah rusak, sedangkan dalam Islam karena manusia tidak menyembah Allah.

Pada akhirnya, saya jadi tahu kalau seorang Kristen bisa saja tidak melihat isi kitabnya secara literal. Orang beragama bisa saja tidak meyakini kisah penciptaan dalam kitab sebagai suatu kronologi yang benar-benar terjadi. Bagi saya sendiri saat ini ada yang lebih penting dari benar atau tidaknya kisah-kisah dalam kitab suci. Yaitu memahami bahwa kisah-kisah dalam agama maupun mitologi sejatinya adalah upaya manusia mencoba memahami dan bertahan dengan dunia yang mereka hidupi saat itu. Sebuah upaya untuk hidup harmoni dengan alam dan menjaga ketertiban. Melalui kisah-kisah itu kita jadi memahami kondisi geografis tempat kisah itu muncul, kita bisa mempelajari emosi manusia pada zamannya dan bagaimana hal-hal tersebut tetap relevan dengan permasalahan saat ini.

Tentang penulis

Beri Komentar

Oleh Zakwan

Get in touch

Categories