Categories
Funny Lagi Serius Share Tips dan Trik

Inilah Pelajar yang menyulitkan diri dan kaumnya

Kalau membaca Al-Quran, saya lebih sering membaca terjemahannya daripada ayat-ayatnya, karena banyak kisah-kisah dan kejadian menarik yang ada disebutkan disana. Salah satu yang sangat menarik adalah kisah di surat Al-Baqarah ayat 67-71 (Sapi Betina) (terjemahannya bisa dilihat di akhir artikel)

Ayat-ayat tersebut adalah potongan kisah seorang laki-laki yang dibunuh oleh keponakannya yang ingin mendapatkan warisan, kemudian mayatnya dibuang ke perkampungan lain untuk menghapus jejak, warga yang menemukan mayat tersebut punya banyak pendapat tentang pelaku, karena tidak tau siapa pelaku pastinya, mereka berkata, "Mari kita menghadap Musa dan memintanya berdoa untuk kita kepada Rabb-nya agar menjelaskan siapa si pembunuh tersebut."
Lalu mereka menghadap kepada Musa, Musa berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, lalu kalian pukulkan bagian dari anggota badannya ke tubuh si korban agar dia berbicara dan menjelaskan siapa orang yang telah membunuhnya." Ketika beliau berkata demikian kepada mereka, mereka malah menjawab, "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?." Demikian, mereka lancang memberikan label ‘mengejek dan bermain-main’ kepada Nabi Allah. Itu tentu saja merupakan perbuatan dosa.
Mereka terus bertanya kepada Musa perihal sapi tersebut dan (secara tidak langsung) minta persyaratannya terus diperberat”, sehingga Allah pun menjadikan persyaratannya semakin berat. Hal inilah yang membuat mereka hampir saja tidak dapat melakukan penyembelihan tersebut padahal bila mereka langsung menerima sapi yang ditawarkan oleh Allah Ta’ala (melalui lisan Musa) dan menyembelihnya tentu sudah cukup (tidak perlu bersusah-payah). Akan tetapi mereka justru mempersulit dan memperberat beban bagi diri sendiri dengan banyak persyaratan sehingga Allah pun menjadikannya semakin sulit dan berat bagi mereka. Akhirnya, mereka baru memperoleh sapi yang diminta tersebut setelah bersusah-payah dan menghabiskan energi. Setelah pemiliknya menawarkan harga yang mahal dan menjualnya kepada mereka seharga emas yang memenuhi kulit sapi tersebut.

Pelajaran dari kisah tersebut (bagi saya) bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, janganlah mempersulit diri sendiri (apalagi kaum) dengan banyak bertanya.

Kejadian serupa sering saya rasakan ketika ada Ujian atau Kegiatan Belajar Mengajar di hsekolah saya. Saat guru memberikan soal, seringkali siswa bertanya (setelah membaca soal tersebut). Misalnya:

Berikan contoh blablabla!

Biasanya banyak yang bertanya” berapa contoh yang harus saya tulis?”

Kemudian saat guru menjawab (misal) “5 Contoh saja”, mereka malah berkata, “Yaaah Ibu, kok terlalu banyak contohnya? Susah Bu..” (ya ampun, kalau begitu ya tidak usah ditanya)

Padahal bisa saja mereka menyebutkan 1 contoh, karena tidak diberi patokan berapa contoh dari soal tersebut.

Atau dari jenis soal “sebutkan”:

Sebutkan jenis-jenis blablablabla!

Tak jarang ada yang bertanya, “Bu, perlu ditulis lagi penjelasannya?” Padahal didalam soal dengan jelas siswa hanya disuruh menyebutkan.

Atau ketika guru memberikan tugas, kadang siswa bertanya, “Dimana saya harus menulisnya?”  Saat guru menjawab,”di karton berwarna” siswa malah keberatan dan memprotes, padahal bisa saja dia hanya menulis di kertas biasa.

Kemudian ada lagi yang bertanya,”ditulis tangan? atau diketik?”  saat guru menjawab, “ditulis tangan saja” siswa keberatan dan memprotes lagi.

Padahal dengan mendengarkan tugas dan mengerjakannya dengan wajar (tanpa banyak bertanya) siswa dengan mudah bisa menyelesaikan tugasnya. Paling tidak saat dikumpulkan, kalau nanti guru bertanya, misal,“kenapa di ketik?”  bisa dijawab dengan “Ibu kan tidak memberi syarat kemarin, lagipula saya tidak sanggup menulis sebanyak itu, Bu.” mungkin guru dapat memakluminya, karena menurut saya tiap guru pasti menghargai hasil kerja muridnya.

Intinya:

“tidak perlu banyak bertanya karena nantinya jawaban yang diberikan bisa jadi syarat yang semakin menyulitkan diri kita.”

Terjemahan Surat Al-Baqarah 67-71:

67. 
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".
68. 
Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
69. 
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
70. 
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."
71. 
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *