homepage + blog

Indahnya Tangse

I

Sejak beberapa hari yang lalu nenekku sakit, aku harus pulang kampung untuk menjenguk beliau. Kampungku di Tangse, tempat kelahiran orangtuaku. Banyak yang tidak tahu Tangse berada, bahkan orang Aceh sendiri.

DSC02712 Tangse terletak di Pidie, sebuah kabupaten di NAD. Letaknya di pegunungan membuat suasananya sejuk pagi, siang maupun malam. Dengan sungai yang bersih dan penghasil padi yang terkenal sebagai beras terbaik di Aceh. Hmm..nasi disini memang sangat lezat apalagi di Tangse juga terdapat menu makanan khas, yaitu ikan Keureuling (Inggris: Mahseer), ikan yang sulit ditangkap ini harganya lumayan mahal.

DSC02604

Kebetulan saat ini di Tangse, warga baru saja memanen padinya, jadi yang terlihat hanya sawah dengan jeraminya yang kuning. Padahal pemandangan lebih indah saat padinya masih hijau.

DSC02608

 

 

 

 

 

 

 

Kebetulan juga, di Tangse lagi musim buah durian. Memang, musim durian di Tangse sekitar bulan Desember. Buahnya berisi, harum dan hmm.. sangat lezat.

DSC02599

 

 

 

 

 

Seseorang dari LAPD (Los Angeles Police Department) sedang membelah durian Tangse di malam hari. 😀

DSC02627 

 

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya membelah lagi..

DSC02723

 

 

 

 

 

 

Menunggu rejeki Durian Runtuh di kebun nenek.

Dan…Jatuh! tapi kecil amat. Durian Mini nih..

DSC02727

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DSC02721

 

 

 

 

 

 

 

 

“Terima kasih, di Belakang sudah banyak pak..”

DSC02653

DSC02654

 

 

 

 

 

 

 

Yang ini buah coklat, buah yang diolah menjadi coklat!

DSC02728

Haaaahhh..temperatur disini masih dingin.

Di Tangse terdapat tiga makam pejuang Aceh yang syahid dalam peperangan melawan Belanda di Gunung Halimon, tempat Hasan Tiro mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 1976. Beberapa bulan yang lalu Hasan Tiro berziarah ke makam ini.

DSC02706

Ketiga syuhada tersebut merupakan keluarga besar Hasan Tiro dari keturunan Pahlawan Nasional, Tgk Chik Ditiro Muhammad Saman dan dikuburkan di sebuah tempat di belakang masjid di desa Pulo Masjid.

Ketiga makam tersebut, masing-masing makam Tgk Ma‘at Muda (Panglima Muda) alias Tgk Syaikh Ma‘at yang syahid dalam usia 16 tahun pada 3 Desember 1911 di Gunung Halimon. Bagi Hasan Tiro, tanggal dan bulan syahidnya Ma‘at Muda merupakan sejarah tak terlupakan. Sebab, tanggal 4 Desember, atau pada hari jenazah Ma‘at Muda dikebumikan, justru dijadikan Hasan Tiro sebagai tanggal deklarasi Aceh Merdeka pada tahun 1976.

Kuburan Tgk Ma‘at Muda yang merupakan anak dari Tgk Mat Amin Tiro lebih pendek dari dua makam lainnya. Ternyata  saat dimakamkan, jasad cucu Tgk Chik Ditiro yang terbunuh oleh peluru pasukan Belanda di atas Gunung Halimon itu sudah tak lagi utuh. Belanda membawa kepala Teungku Ma‘at Muda ke negaranya.

Dua makam lainnya yang juga diziarahi Hasan Tiro adalah makam Tgk Muhmmad Hasan, seorang pejuang Aceh dan juga ulama. Ia juga tewas di Gunung Halimon pada 1910.

Satu makam lainnya adalah makam Tgk Mahiddin alias Tgk Chik Mayet, anak Tgk Chik Ditiro, yang syahid pada 5 September 1910, juga di Gunung Halimon. (Koran Serambi)

Sebelum pulang, berfoto dulu di jembatan gantung.

DSC02703 DSC02700

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DSC02690 

 

 

 

 

 

 

 

 

DSC02710

 

 

 

 

 

 

Hari ini, keadaan nenek semakin membaik. Kami pun harus kembali ke Banda Aceh karena besok sudah mulai sekolah dan bekerja lagi.

Tentang penulis

1 Komentar

homepage + blog

Zakwan

Get in touch